“37 Tahun Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia”

Pada 3 Februari 2007,  Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir, bertempat di Jalan Kramat Raya 45 Jakarta, akan menggelar satu acara seminar nasional bertema “Evaluasi 37 tahun Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia.” Tampil sebagai pembicara adalah Dr. Daud Rasyid, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Dr. Mukhlis Hanafi, dan Adnin Armas MA. Seminar ini memiliki makna yang penting bagi umat Islam Indonesia, mengingat, setelah 37 tahun berlalu, gerakan pembaruan Islam bukannya telah berhenti, tetapi semakin menjadi-jadi dan melebar ke mana-mana.

Masa 37 tahun Gerakan Pembaruan Islam dimulai ketika Nurcholish Madjid memulai pidatonya pada 3 Januari 1970 di Jakarta dengan judul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat.” Dalam disertasinya di Monash University Australia yang diterbitkan oleh Paramadina dengan judul “Gagasan Islam Liberal di Indonesia”, Dr. Greg Barton menyebutkan, bahwa melalui makalahnya tersebut, Nurcholish dihadapkan pada satu dilema dalam tubuh umat. Di satu sisi, masyarakat Muslim harus menempuh arah baru, namun di sisi lain, arah baru tersebut berarti mengorbankan keutuhan umat.

Muslim Indonesia, kata Nurcholish, secara intelektual telah cukup tertinggal dan membutuhkan gairah baru serta gagasan-gagasan segar; meskipun gairah intelektual tersebut akan membawa perpecahan di tubuh umat, seperti yang diperlihatkan oleh berbagai rangkaian sejarah. Untuk mendukung gagasannya, Nurcholish Madjid mengutip pemikiran yang dikembangkan Lenin; “Betapa pun dinamika lebih menentukan daripada statisme, sekalipun yang terakhir ini meliputi jumlah besar manusia.”

Nurcholish juga meminjam pikiran Andrea Beufre: “Garis-garis pemikiran tradisional kita sudah seharusnya dipersilakan pergi ke laut, lantaran yang paling utama sekarang adalah kemampuan menatap ke muka ketimbang memiliki tingkat kekuatan yang besar namun hasil-gunanya masih penuh persoalan.”

Marilah kita renungkan kembali lagi kata-kata Nurcholish Madjid 37 tahun lalu berikut ini:

“Dari ungkapan tersebut kita hendak menarik pengertian bahwa pembaruan harus dimulai dengan dua tindakan yang saling erat hubungannya, yaitu melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai yang berorientasi ke masa depan. Nostalgia, atau orientasi dan kerinduan pada masa lampau yang berlebihan, harus diganti dengan pandangan ke masa depan. Untuk itu diperlukan suatu proses liberalisasi. Proses itu dikenakan terhadap “ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan Islam” yang ada sekarang ini…”

Jadi, untuk menatap masa depan dan meninggalkan nilai-nilai tradisional, menurut Nurcholish Madjid, maka harus dilakukan liberalisasi terhadap ajaran-ajaran dan pandangan Islam. Ada tiga proses yang saling kait-mengait dalam masalah ini, yaitu (1) sekularisasi, (2) kebebasan intelektual, dan (3) “Gagasan mengenai kemajuan” dan “Sikap Terbuka”.Tidak bisa dipungkiri, Nurcholish Madjid menjadi faktor penentu bagi perkembangan gerakan pembaruan Islam di Indonesia. Pertama, karena kepiawaian komunikasi Nurcholish baik lisan maupun tulisan. Dan kedua, karena Nurcholish berlatar belakang pendidikan studi Islam dan memulainya dari dalam tubuh organisasi Islam. Ini berbeda misalnya, dengan gagasan sekularisasi yang dilakukan Soekarno. Meskipun sangat piawai dalam komunikasi, Soekarno bukanlah berkatar belakang pendidikan Islam, dan bukan tokoh organisasi Islam.

Dengan kepiawaiannya berkomunikasi, Nurcholish dan ide-idenya masih terus dikembangkan, dan telah disucikan oleh sebagian kalangan. Majalah Media Dakwah edisi Januari 2007 menurunkan laporan utama tentang barisan cendekiawan Gontor yang mengkritik pemikiran Nurcholish Madjid, yang juga alumni pesantren Gontor. Barisan ini dimotori oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Dr. Syamsuddin Arif, Adnin Armas MA, Fathurrahmkan Kamal MA dan Henry Shalahuddin MA. Para cendekiawan ini secara sistematis dan akademis menguraikan kekeliruan gagasan pembaruan Islam Nurcholish Madjid.

Sebelumnya, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, telah menulis artikel di Harian Republika, 28 Desember 2006, dengan judul “Menyoal Pembaruan Islam”. Hamid menguraikan dengan jelas, bagaimana pengaruh modernisme terhadap gagasan pembaruan Islam, dan merancukannya dengan pengertian tajdid. Pembaruan sering diterjemahkan menjadi modernisasi dan kini bahkan menjadi liberalisasi.

Padahal tajdid berbeda dari modernisasi ataupun liberalisasi baik secara etimologis maupun konseptual. Malangnya, perbedaan ini tidak dicermati, dan konsep-konsep di dalamnya buru-buru diadopsi tanpa proses epistemologi yang jelas. Pembaruan pemikiran Islam yang dimotori Nurcholish Madjid dan kini bergulir menjadi proyek liberalisasi Islam di Indonesia adalah contoh yang paling jelas. Pembaruan dimaksud ternyata secara eksplisit mengusung, memodifikasi, atau menjustifikasi konsep modernisme, sekularisme, dan rasionalisme.

Menurut Hamid, pengaruh paham modernisme dalam pemikiran Nurcholish lebih jelas lagi ketika ia mengambil unsur utama modernisasi, yaitu sekularisasi untuk memahami agama. Sekularisasi menurutnya adalah menduniawikan masalah-masalah yang mestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat Islam untuk mengukhrawikannya. Gagasan ini kemudian diperkuat dengan ide liberalisasi pandangan terhadap ajaran-ajaran Islam yang intinya memandang negatif terhadap tradisi dan kaum tradisionalis. Ternyata gagasan ini mengadopsi pemikiran Harvey Cox dan Robert N Bellah, pencetus gagasan sekularisasi dalam Kristen. Tidak ada modifikasi yang berarti di situ. Ia hanya mencarikan justifikasinya dari dalam ajaran Islam.

Dalam laporannya, Majalah Media Dakwah edisi Januari 2007 menurunkan sejumlah artikel dari para cendekiawan alumni pesantren Gontor yang membuktikan, bahwa ide-ide pembaruan Islam Nurcholish Madjid adalah gagasan yang dikembangkan oleh para pemikir Kristen-Barat yang berangkat dari pengalaman sejarah dan keagamaan Kristen di Barat. Adnin Armas membuktikan adopsi gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid dari pemikir Kristen Harvey Cox. Fathurrahman Kamal, dalam tesis masternya di UIN Yogyakarta, membuktikan pengaruh pemikiran pendeta Wilfred Cantwell Smith terhadap teori “Islam” versi Nurcholish Madjid. Henry Shalahudin yang kini menjadi dosen di STID Moh. Natsir, mengupas kekeliruan ide “relativisme” Nurcholish Madjid. Sementara, Dr. Syamsuddin Arif –yang sedang menulis disertasi untuk doktor keduanya di Frankfurt Jerman –menulis satu artikel bernas yang mengupas kekeliruan gagasan sekularisasi.

Banyak kritik ilmiah telah ditulis terhadap gagasan pembaruan Islam. Tetapi, memang, harus diakui, selama puluhan tahun, Nurcholish mampu mamukau bahkan nyaris “menyihir” banyak orang dan kalangan, sehingga pemikirannya dikultuskan, sosoknya dimitoskan, dan dibela habis-habisan. Dan itu diakui, misalnya, oleh Henry Shalahuddin, yang selama sembilan tahun belajar di lingkungan Gontor, mulai dari tingkat pesantren sampai sarjana ushuluddin.

Henry menulis di Media Dakwah, bahwa selama berada di Gontor, sosok Prof. Dr. Nurcholish Madjid merupakan idola yang menakjubkan. Bahkan, menurut Henri, ketakjuban itu selama ini juga terjadi pada banyak santri, mahasiswa, guru dan alumni Pondok Modern Gontor lainnya. Nurcholish merupakan sosok yang mumpuni dalam ilmu keagamaan, terbuka dalam berdiskusi, berwawasan luas yang didukung dengan kemampuan beretorika dan mengolah kata ketika menyampaikan ceramah, sehingga para hadirin pun kerap terpukau dibuatnya. “Sejujurnya, inilah mitos yang terbangun pada diri saya,”kata Henri Shalahuddin, mengawali tulisannya yang mengkritik paham relativisme keagamaan Nurcholish.

Namun, setelah semakin banyak menyelami bidang pemikiran Islam, khususnya setelah menyelesaikan kuliahnya di program S-2 International Islamic University Malaysia (IIUM), Henri tersadar, bahwa pendangannya selama ini terhadap Nurcholish Madjid adalah keliru. Nurcholish tidak lagi tokoh yang dianggapnya sebagai sosok yang sakral dan selalu benar. Bahkan, seperti umumnya manusia, ia kerap lalai dan khilaf termasuk dalam pemikirannya yang selama ini ia kagumi. “Bahkan akhirnya saya memahami bahwa pemikiran Nurcholish acapkali membawa konsekwensi yang serius bagi bangunan Islam,” kata Henri.

Kasus Henri adalah salah satu contoh nyata bagaimana sosok Nurcholish Madjid memang telah menjadi mitos pada sebagian orang. Nurcholish memang telah meninggal dunia pada hari Senin, 29 Agustus 2005, lalu. Jasadnya telah dikubur di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Secara fisik, Nurcholish Madjid telah tiada. Tetapi, tampaknya, pemikirannya tidak mati bersamanya. Gagasan-gagasannya terus dijadikan rujukan dan dihidup-hidupkan oleh para pendukung dan pengikutnya.

Pada Hari Jumat, 22 Desember 2006, Dawam Rahardjo, seorang pendukung setia Nurcholish Madjid, menulis satu ulasan di Harian Kompas berjudul: “Pembaruan Islam: Ensiklopedia Nucrholish Madjid.”Di sini, Dawam menilai, para pengkritik Nurcholish Madjid selama ini, termasuk Prof. HM Rasjidi, telah salah memahami gagasan Nurcholish Madjid, khususnya dalam soal sekularisme dan sekularisasi. Penjelasan Dawam tentang sekularisasi masih mengulang argumentasi Nurcholish Madjid, bahwa sekularisasi adalah proses yang terus berlanjut dan bukan merupakan paham yang statis. Atau, sekularisasi adalah sekularisme yang terbatas.

Ensiklopedia Nurcholish Madjid ini disebut oleh Dawam Rahardjo sebagai suatu upaya sistematisasi tentang “Nurcholisisme”. Dawam tetap menyimpulkan: “Nurcholish tidak sekedar menjadi tokoh pembaru pemikiran Islam, tetapi juga seorang guru bangsa.”

Jadi, Nurcholish memang telah tiada. Tetapi, oleh pendukung gerakan pembaruan Islam –yang kemudian dilanjutkan oleh gerakan liberalisasi Islam — dia tetap dijadikan sebagai tempat bergayut. Namanya diabadikan. Gagasan-gagasannya terus diapresiasi, dipuji, dan disebarluaskan ke tengah masyarakat luas. Bahkan, sepertinya, peristiwa meninggalnya Nurcholish terus dijadikan momentum untuk melestarikan dan menghidupkan gagasan-gagasannya.

Masa 37 tahun Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia sudah memadai untuk melakukan penilaian ulang secara mendasar dan menyeluruh. Gagasan dan akibat-akibat lebih jauh dari gagasan sekularisasi dan liberalisasi Islam –baik di masyarakat maupun di perguruan tinggi Islam– sudah dapat dilihat dengan jelas. Proses ini tidak akan berhenti, sebab sebagai bagian dari umat manusia yang mendiami dunia ini, umat Islam juga sedang berhadapan dengan arus dan gelombang modernisme. Semua manusia dan agama menghadapi masalah yang sama.

Modernitas adalah kenyataan dan adalah mustahil untuk melarikan diri dari modernitas tersebut. Lawrence E. Cahoone, dalam bukunya The Dilemma of Modernity (1988), menggambarkan hegemoni modernitas tersebut bagi umat manusia. Sejak masa renaissance, manusia yang hidup di Barat sudah harus hidup dalam alam modernitas, laksana ikan yang hidup di air. Tapi, bagi masyarakat non-Barat, kata Cahoone, mereka juga dipengaruhi oleh budaya modernitas dengan kuat.

“Through colonialism, trade, and the export of ideology, the modern West has injected components of its own civilization into the indigenous cultures of non-Western societies,” tulis Cahoone. Karena itu, ujarnya, semua manusia dipengaruhi paham modernitas ini, baik secara langsung maupun tidak.

Inti modernitas, menurut pakar sosiologi Max Weber, adalah rasionalisasi, yang mensyaratkan adanya sekularisasi. Di Barat, kata David West, dalam bukunya “An Introduction to Continental Philosophy”, (1996), rasionalisasi selalu dikaitkan dengan proses sekularisasi yang oleh Weber disebut “dis-enchantment.”Masyarakat modern memang menempatkan akal manusia sebagai penentu kebenaran, bukan lagi agama, dan menjadikan agama sebagai urusan pribadi. Alain Touraine, dalam bukunya “Critique of Modernity” (1995), menulis, “The idea of modernity makes science, rather than God, central to society and at best relegates religious beliefs to the inner realm of private life.”

Gagasan-gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid bisa dengan mudah dilacak pada gagasan sekularisasi yang sudah dikembangkan oleh para pemikir di Barat. Tetapi, harusnya kaum pembaru Islam sadar, bahwa Islam tidak sama dengan agama Kristen, Yahudi, atau agama lain yang merupakan agama budaya dan sejarah (historical and cultural religion). Islam adalah agama final dan sempurna dari awal. Umat Islam memiliki teks kitab suci yang final, yang terjaga otentisitas teks dan maknanya, sepanjang sejarah. Umat Islam juga tidak mengalami problem sejarah keagamaan seperti yang dialami oleh kaum Kristen di Eropa.

Inilah kesalahan fatal dari gerakan pembaruan Islam: menyamakan karakter ajaran Islam dan sejarah Islam dengan karakter ajaran Kristen dan sejarahnya di Barat. Karena itu, gagasan sekularisasi –juga liberalisasi Islam– sebenarnya paham yang asing, tetapi dipaksakan kepada umat Islam dengan berbagai cara.

Memang, sekularisasi, westernisasi, atau liberalisasi Islam, saat ini merupakan masalah dan tantangan terberat yang dihadapi oleh umat Islam. Para ulama dan cendekiawan Muslim tidak boleh lengah dan “cuek”. Mereka harus memberikan respon yang cerdas dan serius tentang masalah ini.Wallahu a’lam bi al-shawab. (Depok, 19 Januari 2007/ www.hidayatullah.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

*

Jadwal Sholat


Jadwal Sholat Di Beberapa Kota