Adab & Karakter Guru-Muballigh (Da’i)

 يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ. هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ

يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah) dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. Al-Jumu’ah/62 :1-2)

 MUKADDIMAH : MEMBACA ULANG VISI PENDIDIKAN KITA

Ayat tergurubaca di atas menegaskan tiga fungsi kenabian yang diemban oleh Rasulullah s.a.w.; 1)tilawah (proses pembacaan yang disertai sikap pengagungan terhadap apa yang dibaca dan komitmen untuk mengikutinya); 2)tazkiyah sebagai proses purifikasi (pensucian) dan; 3) ta’lim sebagai proses pengajaran, penguasaan sumber ilmu dan berbagai informasi lainnya. Dari sinilah kemudian, para ahli ilmu, diantaranya Fu’ad Al-Syalhub, menulis sebuah buku bertajuk “al-Mu’allim al-Awwal shalallahu ‘alaihi wa sallam” yang dinisbatkan kepada Rasulullah s.a.w.

Dari perspektif ini, tidaklah berlebihan jika penulis nyatakan bahwa, profesi kependidikan ialah kelanjutan dari serial panjang risalah kenabian yang mengevakuasi manusia min al-dzulumat ila al-nur, sekaligus menegaskan kesuciannya karena misi suci yang diembannya. Sabda Rasulullah s.a.w. (العلماء ورثة الأنبياء)[2]cukup mendasari pernyataan ini, yang oleh karena diapresiasi sedemikian rupa dalam hadis lainnya (إن الله وملائكته وأهل السموات والأرض حتى النملة في جحرها وحتى الحوت ليصلون على معلم الناس الخير)[3]. Oleh karena itu tugas seorang pendidik bukanlah sebatas transfer pengetahuan belaka yang seringkali tersekat dengan suasana formalistik, tapi lebih dari itu mereka berkewajiban melakukan transformasi nilai-nilai kebaikan; membantu subyek didik dalam menemukan jati dirinya sebagai hamba Allah s.w.t. yang paripurna (insan kamil).

Inilah, dalam hemat penulis, sebagai paradigma pendidikan Islam yang berbasis pada wahyu Allah s.w.t. Sebuah karakter kependidikan yang berlandaskan pada pendekatan nilai-nilai Al-Quran dan Sunnah Rasulullah s.a.w. yang sangat penting untuk terus digemakan di saat, tidak sedikit praktisi pendidikan yang hanya menonjolkan aspek kemampuan intelektualitas  (cognitive) dan psikomotorik belaka dan meninggalkan nilai-nilai etika (affective domain). Islam mengajarkan keseimbangan tiga domain seklaigus; kognitif, afektif dan psikomotorik.

Prof. Dr. Naquib Al-Attas rahimahullah –salahseorang pemikir muslim terkemuka- menggagas operasionalisasi konsep pendidikan Islam dengan istilah “ta’dib” yang berarti,  penyemaian dan penanaman adab dalam diri seseorang. Al-Qur’an menyebut contoh manusia ideal bagi orang beradab adalah Nabi Muhammad s.a.w. Beliaulah potret insan kamil sejati. Oleh karena itu, pengaturan administrasi pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam sistem pendidikan Islam haruslah merefleksikan Manusia Sempurna. Menurutnya, orang terpelajar/terdidik adalah orang baik, dalam pengertian yang menyeluruh meliputi kehidupan spiritual dan materialnya. Orang baik adalah orang yang menyadari sepenuhnya tanggungjawab dirinya kepada Allah Yang Haq; yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya; yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.”[4]

Oleh karenanya, bagi Al-Attas, pengertian adab sebagaimana pernyataan terbaca di atas setidaknya mengandung beberapa unsur berikut; suatu tindakan untuk mendisiplinkan jiwa dan pikiran; pencarian kualitas dan sifat-sifat jiwa dan pikiran yang baik; perilaku yang benar dan sesuai yang berlawanan dengan perilaku salah dan buruk; ilmu yang dapat menyelamatkan manusia dari kesalahan dalam mengambil keputusan dan sesuatu yang tidak terpuji; pengenalan dan pengakuan kedudukan sesuatu secara benar dan tepat; serta realisasi keadilan sebagaimana direfleksikan oleh hikmah (kebijaksanaan). Di sinilah kemudian, dapat kita petakan secara cermat makna pendidikan, pengajaran dan pelatihan. Pengajaran dan pelatihan dapat diberikan kepada manusia dan binatang, sementara pendidikan hanya dapat dilakukan untuk manusia.[5]

PROFESI PENDIDIK DAN KEWAJIBAN BERDAKWAH (TABLIGH)

Jika pendidikan Islam dimaknai seperti di atas yaitu, mewujudkan manusia paripurna (insan kamil) yang dapat mengaktualisasikan penghambaan diri yang sejati kepada Allah s.w.t.; menunaikan segala perintah sebagaimana menjauhi larangan-laranganNya, tentunya, sangat kompatibel dengan misi dakwah persyarikatan Muhammadiyah yang bertujuan mewujudkan manusia dan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, dengan gerakan dakwah Islam : amar ma’ruf dan nahi munkar.

Tidak berbeda dengan pengertian ta’dib tersebut, Prof. Dr. Amien Rais menyatakan, dakwah pada pokoknya berarti ajakan atau panggilan yang diarahkan pada masyarakat luas untuk menerima kebaikan dan meninggalkan keburukan. Dakwah merupakan usaha untuk menciptakan situasi yang lebih baik sesuai dengan ajaran Islam di semua bidang kehidupan. Dipandang dari kacamata dakwah, kehidupan manusia merupakan suatu kebulatan. Sekalipun kehidupan dapat dibedakan menjadi beberapa segi, tetapi dalam kenyataan kehidupan itu tidak dapat dipisah-pisahkan.[6]

Demikian pula profesi pendidik, secara subtansial, tidak berbeda dengan seorang da’i atau muballigh. Kedua-duanya pelaku aktif dalam transformasi nilai-nilai ilahiyah kepada subyek didik dan subyek dakwahnya seperti hadis Rasulullah s.a.w berikut ini :

عن أبي هريرة  أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:  من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا[7]

Sejatinya menunaikan tugas dakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Dakwah dapat dilaksanakan secara individu ataupun kolektif (jamaah). Hal ini berdasarkan :

قال الله تعالى : وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون[8]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ[9]

Melaksanakan dakwah secara kolektif dan terorganisir merupakan satu keharusan (dlarury) ketika para da’i menghadapi permasalahan dakwah yang lebih kompleks, karena jelas, kondisi semacam ini tidak dapat diselesaikan dengan daya juang perseorangan yang bercerai-berai. Penegasan ini terbaca ada sirah Nabawiyah, ketika beliau SAW memerintahkan setiap orang yang baru saja masuk Islam untuk bergabung dan berhijrah ke Darul Hijrah agar kerja keras mereka semakin solid dan berada dibawah arahan Rasulullah SAW secara langsung.[10] Hal ini diteguhkan pula oleh Firman Allah dalam Al-Ma’idah ayat 2 berikut ini :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa dakwah tidak wajib atas setiap muslim dan muslimah (fardlu ‘ain). Status hukum melaksanakan dakwah ialah wajib kifayah bagi para ulama dan agamawan. Mereka mengatakan, konteks perintah berdakwah dalam surat Alu Imran ayat 104 tidak menunjuk kepada keseluruhan umat Islam, tetapi bagi sebagian saja di antara mereka. Karena  ”منكم” di sini, bermakna ”تبعيض” (menunjuk makna sebagian).

Al-Imam Al-Razy dalam tafsirnya megatakan bahwa kata ”منكم” dalam ayat 104 dari surah Alu Imran  menunjuk kepada makna ‘penjelasan’ (تبيـين) dan tidak bermakna ’sebagian’ (تبعيض), berdasarkan dua alasan; 1) bahwasanya Allah mewajibkan amar maruf nahi munkar kepada semua umat dalam surat Alu Imran ayat 110; dan 2) tak seorang mukallafpun kecuali wajib atas diriya amar maruf nahi munkar, sesuai dengan kemampuan dan kafasitasnya, ”bi al-yad aw bi al-lisan aw bi al-qalb.” Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa makna ayat 104 dari surah Alu Imran tersebut ialah ”jadilah kalian sebagai umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan yang maruf dan mencegah yang munkar.”[11]

Dalam hemat penulis, dalam perkara-perkara dakwah yang mampu dilakukan oleh setiap individu umat maka dakwah menjadi kewajiban idividual (fardlu ‘ain). Sementara dalam berbagai permasalahan dakwah yang lebih rumit dan kompleks serta membutuhkan kerja kolektif dan sinergis antar individu dan jamaah umat atau juga membutuhkan media dan sarana yang lebih berat maka, dakwah bersifat fardlu kifayah.Dalam konteks ini, seorang pendidik, tentunya, secara individual wajib menunaikan dakwah sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.

KARAKTERISTIK AL-MU’ALLIM AL-DÂ’IYAH

Seringkali kita memaknai aktivitas mendidik dan berdakwah sebagai aktivitas memperbaiki orang lain. Akibatnya, kita terjebak pada ’aktivisme’ yang bersifat rutin dan seringkali sangat menjenuhkan. Bahkan kadang kita mengalami defisit stamina batin dan keropos pertahanan spiritual. Padahal ini menjadi modal utama dalam mendidik dan berdakwah/bertabligh. Kedua ayat berikuti ini menghartuskan kita membangun pondasi kepribadian dan karakter yang kokoh sebelum menyuruh orang lain melakukannya. Bani Israel dikecam oleh Allah s.w.t. dalam al-Baqarah ayat 44 :

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُون

Demikian pula ancaman Allah s.w.t. kepada kita, orang-orang beriman dalam Al-Shaff :2-3 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ. كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Karakter secara leksikal berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlaq atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain.[12] Dengan demikian, karakter guru-muballigh Muhammadiyah (al-mu’allim al-da’iyah) berarti, yang membedakannya dengan orang lain pada aspek-aspek tersebut.

Karakter terbentuk melalui perjalanan hidup; pengetahuan, sistem keimanan, ideologi, pengalaman sejarah serta penilaian kita terhadap sejumlah pengalaman tersebut. Jadi, kepribadian atau karakter kita merupakan hasil interaksi  totalitas kita tersebut dengan berbagai peragkat dasar kemanusiaan yang  kita miliki. Karakter bukanlah sekedar konstruksi nalar. Karakter merupakan titik akumulasi di mana nalar, kesadaran moral (konsep haq dan bathil, khair dan syarr) dan kesucian jiwa bertaut, memancarkan cahaya kehidupan dan menghadirkan pencerahan jiwa yang konstruktif. Berikut beberapa karakter guru/pendidik sekaligus sebagai da’i (muballigh) :

1)       Ikhlas.

Ikhlas berasal dari kata bahasa Arab ”khalasha” yang berarti bersih, jernih, murni dan tidak bercampur dengan suatu apapun.

Syaikh Sayyid Sabiq mendefinisikannya sebagai berikut :

أن يقصد الإنسان بقوله وعمله وجهاده وجهَ الله وابتغاء مرضاته من غير نظر إلى مغنم أو جاه إو لقب أو مظهر أو تقدُّم أو تأخّــرٍ ليرتفع المرء عن نقائص الأعمال ورذائل الأخلاق ويتصـل مباشرة بالله تعالى.[13]

Ikhlas terdiri dari tiga unsur berikut ini :

  1. Niat yang ikhlas (إخلاص النـيــة)

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ (رواه البخاري)

  1. b.      Mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya (إتقـان العمل)

إن الله يحب إذا عمل أحدكم عملا أن يتقنه[14]

  1. c.       Pemanfaatan hasil usaha dengan tepat dan benar (جودة الأداء)

Jika seseorang telah mendapatkan ilmu, ia apakan ilmunya? Apakah hanya untuk kepentingan status sosial sehingga ia dihormati oleh orang lain? Ataukah ia gunakan di jalan Allah s.w.t. untuk menebarkan hidayahNya bagi sebanyak-banyaknya umat. Muballigh sendirilah yang mengetahuinya.

Ali bin Abi Thalib mengatakan : “Orang riya’ memiliki empat tanda; malas ketika sendirian; semangat ketika ditengah keramaian orang; bertambah amalnya ketika dipuji; dan berkurang amalnya ketika tidak mendapat pujian.”

Perhatikan pula hadis Rasulullah s.a.w. berikut ini :

إن أول الناس يقضى يوم القيامة عليه رجل استشهد فأتى به فعرفه نعمه فعرفها قال فما عملت فيها ؟ قال قاتلت فيك حتى استشهدت قال كذبت ولكنك قاتلت لأن يقال جريء فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار ورجل تعلم العلم وعلمه وقرأ القرآن فأتي به فعرفه نعمه فعرفها قال فما عملت فيها ؟ قال تعلمت العلم وعلمته وقرأت فيك القرآن قال كذبت ولكنك تعلمت العلم ليقال عالم وقرأت القرآن ليقال هو قارئ فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار ورجل وسع الله عليه وأعطاه من أصناف المال كله فأتى به فعرفه نعمه فعرفها قال فما عملت فيها ؟ قال ما تركت من سبيل تحب أن ينفق فيها إلا أنفقت فيها لك قال كذبت ولكنك فعلت ليقال هو جواد فقد قيل ثم أمر به فسحب على وجهه ثم ألقي في النار (رواه مسلم)

2)       Tazkiyatun Nufus : Menjaga stamina ruhiyah/spiritual dengan memperkokoh hubungan dengan Allah s.w.t. melalui ibadah-ibadah wajib dan sunnah

Sangat menarik untuk dicermati ‘pergolakan batin’ (ruhiyah) KH Ahmad Dahlan ketika mentadabburi ayat 23 surat al-Jatsiyah berikut ini :

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ[15]

KH Ahmad Dahlan menjelaskan, asal mula kelahiran manusia adalah berdasarkan “fitrah”, asal yang suci, murni dan bersih [bebas dari angkara murka dan kejahatan]. Lalu ia dipangaruhi oleh hawa nafsunya, orang tua, lingkungan pergaulan, guru, rumah tangga serta masyarakat sekitarnya. Inilah proses yang pada akhirnya menjadikan manusia tertawan oleh hawa nafsunya sendiri.[16]

Setelah melakukan tafakkur, muhasabah dan muraqabah akhirnya beliau menyimpulkan bahwa, untuk menemukan kembali fitrah yang hilang kita dituntut melakukan pensucian diri/jiwa (tazkyatun nufus). Hal ini dapat dilakukan dengan cara melawan hawa nafsu kemudian hanya tunduk kepada Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Inilah kunci kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat. Takwa kepada Allah merupakan pangkal segala kebaikan sebagaimana memperturutkan hawa nafsu menjadi pangkal segala keburukan[17]

Menurut KH Ahmad Dahlan, melawan hawa nafsu yang ada pada diri kita masing-masing tidaklah dapat dilakukan, kecuali dengan membuang jauh-jauh dari diri kita segala sesuatu yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. “Setelah kita mampu membersihkan diri dari khurafat, dapat membandingkan dalil-dalil sehingga dapat mengerti Islam dengan sebenarnya, mengerti sunah-sunah Rasulullah SAW”, kata beliau, “Belum tentu kita dapat menjalankan ajaran-ajaran al-Qur’an jika hawa nafsu di dalam hati masih menjadi berhala.”

KH Ahmad Dahlan mengajarkan dan mendidik kita untuk membuang segala kebiasaan yang ada dalam diri sendiri, dalam rumah tangga dan masyarakat yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunah Nabi SAW. Beliau juga menegaskan perlunya melakukan muhasabah dalam segala sesuatu, baik itu menyangkut perkara aqaid, ikhlas karena Allah SWT maupun perkara-perkara amaliah. Kebersihan jiwa akan terwujud bila kita mempu membuang segala kebiasaan buruk itu.[18]

Penjelasan tersebut sepadan dengan pernyataan Imam Al-Ghazali. Kata beliau dalam kitabnya “Mengobati Penyakit Hati” :

“Mengobati jiwa yang sakit adalah dengan jalan menghilangkan tabiat rendah dan akhlaq-akhlaq buruk, serta mengisinya dengan keutamaan dan budi yang mulia. Sama halnya dengan mengobati tubuh dari suatu penyakit dan menjadikan tubuh sehat dan segar bugar…Setiap anak yang baru dilahirkan, ia pasti dalam keadaan normal jiwanya, sehat fitrahnya serta masih murni dan bersih dari segala pengaruh. Tetapi akhirnya kedua orang tuanya yang membuatnya menjadi penganut agama Yahudi, Nashrani, Majusi dan lain-lain. Ini tentu karena adanya hasil kebiasaan, pendidikan, dan pengajaran atau pergaulan yang menyebabkan anak tadi menjadi gemar melakukan sifat-sifat kerendahan dan bahkan tidak segan melakukannya.”[19]

 

3)       Memegang teguh paradigma ilmu yang tauhidik, bukan dikotomik-sekularistik.

Khursyid Achmad, seorang pakar muslim asal Pakistan, mencatat empat kegagalan yang ditemui oleh sistem pendidikan Barat yang liberal dan sekuler, yaitu; pertama, pendidikan telah gagal mengembangkan cita-cita kemasyarakan di kalangan pelajar; kedua, pendidikan semacam ini gagal menanamkan nilai moral dalam hati dan jiwa generasi muda. Pendidikan semacam ini hanya memenuhi tuntutan pikiran, tetapi gagal memenuhi kebutuhan jiwa; ketiga, pendidikan liberal membawa akibat terpecah belahnya ilmu pengetahuan. Ia gagal menyusun atau menyatukan ilmu dalam kesatuan yang utuh; keempat, selanjutnya pendidikan liberal menghasilkan manusia yang tidak mampu menghadapi masalah kehidupan yang mendasar.

Oleh karenanya, krisis pendidikan tersebut harus dikembalikan kepada frame dan paradigm Islam yang tauhidik. Hakekat pencarian ilmu adalah Ma’rifatullah, mengenal Allah. Konsekuensinya: Tawhidullah.Sementara tujuan pencarian ilmu ada dua; (1) Manhajul Hayat, ilmu-ilmu yang berkaitan dengan paraturan hidup (Al-Qur’an dan Sunnah), dan (2) wasilatul hayat, sarana kehidupan. Ulama kita terdahulu berijtihad dan mengelompokkan ilmu menjadi dua macam : Fardlu ‘ain dan Fardlu kifayah; Ilmu Fardlu ‘ain  adalah : (1)Ilmu mengenai aqidah yaqiniyah/keimanan/selamat dari syirik, (2) Ibadah, yang menata hubungan vertical antara manusia dan Rabb, (3)  Akhlaq, yang dengannya jiwa manusia menjadi bersih, hati disucikan, dan (4) Mu’amalah,  yang menata khidupan pribadi, keluarga, social kemasyarakatan. Sedangkan yang fardlu kifayah adalah yang dibutuhkan untuk menciptakan sarana atau lingkungan yang kondusif bagi dihasilkannya manusia-manusia baik.

Dengan demikian sesungguhnya Islam tidak mengenal dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama, yang membuat manusia menjadi sekuler. Mengapa para ulama terdahulu, disamping mereka menjai para ilmuan, ahli fisika, matematika, kimia, biologi, kedokteran dll dan pada saat yang sama mereka menjadi ahli fiqih, ahli tafsir, ahli hadis dll? Jawabannya jelas, karena mereka tidak terjebak pada dikotomi : ilmu untuk dunia dan ilmu untuk akherat. Semua ilmu diarahkan untuk mencari ridla Allah. Mereka berkeyakinan ilmu apapun termasuk dalam jihad fi sabilillah, jika memang untuk ridla Allah. Mereka memiliki energi yang seimbang untuk mewujudkan itu semua.

Zaman sekarang kita menjadi kehilangan energi karena measa ilmu umum tidak ada kaitannya dengan surga. Sebaliknya yang belajar agama kadang merasa angkuh seolah-olah surga sudah ada ditangan? Hadis berikut ini, umpamanya, tidak semestinya “dibajak” hanya untuk ilmu-ilmu studi keagamaan, tetapi untuk ilmu secara menyeluruh selama mengantarkan kepada hakekat dan tujuan pencariannya. Yang demikian agar kita tidak terjebak pada “despiritualisasi ilmu” :

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ (أبو داود)

4)       Amanah (Dapat dipercaya)

 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (النساء :58)

لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ وَلاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ (رواه أحمد)

Amanah dalam beberapa hal berikut :

• Amanah ilmiah/intelektual

• Amanah social (menjaga titipan orang, menjaga rahasia orang yang konsultasi dll)

• Tidak menyalah gunakan jabatan

• Menunaikan amanah profesi, menunaikan pekerjaan dengan baik

• Amanah terhadap ni’mat Allah s.w.t.

 

5)       Shidq (jujur)

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا. لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (الأحزاب : 23-24)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ (التوبة :119)

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ صِدِّيقاً وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَذَّاباً (رواه البخارى ومسلم)

Jujur dalam :

• Dalam perkataan (shidq al-Qaul)

• Dalam niat dan kehendak/tekad (shidq al-niyat wa al-‘azm)

• Dalam menepati janji (shidq al-wa’d)

• Dalam bekerja (shidq al-‘amal)

 

6)       Lemah lembut, Sopan Santun (Al-Rifq)

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (آل عمران :159)

عن عائشة رضي الله عنها ، « أن يهودًا أتوا الرسول صلى الله عليه وسلم فقالوا: السام عليكم ، فقالت عائشة : عليكم ولعنكم الله ، وغضب اللهعليكم ، قال: مهلًا يا عائشة عليك بالرفق ، وإياك والعنف والفحش ، فقالت: أولم تسمع ما قالوا؟ قال: أولم تسمعي ما قلتُ؟ رددتُ عليهم ، فيستجاب لي فيهم ، ولا يستجاب لهم في (البخاري)

عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: « يا عائشة إن الله رفيق يحب الرفق ، ويعطي على الرفق ما لا يعطى على العنف ، وما لا يعطي على سواه »(رواه مسلم)

عن عائشة زوج النبي صلى الله عليه و سلم  : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه ولا يُـنـزع من شيء إلا شانَه (رواه مسلم)

7)       Sabar

Dimaknai sebagai menahan diri dari sesuatu yang tidak disukai karena mengharapkan ridla Allah s.w.t. :

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (لقمان : 17)

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ (الأحقاف :35)

Sebagian orang keliru dalam memaknai sabar. Mereka menyangka sabar prilaku negatif yang identik dengan menyerah, tidak berusaha dan menghinakan diri sendiri. Ini asumsi yang tidak benar tentang dakwah.

Ketika Rasulullah s.a.w menunaikan aktivitas dakwah terbuka lalu mendapatkan ancaman dari masyarakat Arab, beliau menghadapi berbagai siksaan, penghinaan dan pelecehan yang luar biasa. Keluarga besar beliau diembargo secara sosial, politik dan ekonomi. Beliau sabar dan tegar menghadapinya dan menyatakan :

يا عم و الله لو وضعوا الشمس في يميني ، و القمر في يساري على أن أترك هذا الأمر حتى يظهره أو أهلك فيه ما تركته

Pada bulan Syawal tahun 10 Kenabian (akhir Mei atau awal Juni 619 M) Rasulullah berdakwah di Thaif. Beliau diperlakukan dengan cara yang sangat tidak manusiawi. Beliau hadapi itu dengan untaian doa :

اللهم إليك أشكو ضَعْف قُوَّتِى، وقلة حيلتى، وهواني على الناس، يا أرحم الراحمين، أنت رب المستضعفين، وأنت ربي، إلى من تَكِلُنى ؟ إلى بعيد يَتَجَهَّمُنِى ؟ أم إلى عدو ملكته أمري ؟ إن لم يكن بك عليّ غضب فلا أبالي، ولكن عافيتك هي أوسع لي، أعوذ بنور وجهك الذي أشرقت له الظلمات، وصلح عليه أمر الدنيا والآخرة من أن تنزل بي غضبك، أو يحل علي سَخَطُك، لك العُتْبَى حتى ترضى، ولا حول ولا قوة إلا بك (الرحيق المختوم)

 

 

8)       Hirsh (Empati, Perhatian yang sungguh-sungguh kepada mad’uw)

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (التوبة :128)

KAIDAH DAKWAH SEBAGAI PEDOMAN ETIS Mu’allim Da’iyah[20]

1)      Memberi keteladanan sebelum berdakwah

أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب أفلا تعقلون  (البقرة : 44)

يا أيها الذين آمنوا لم تقولون ما لا تفعلون . كبر مقتا عند الله أن تقولوا ما لا تفعلون

 (الصف :2-3)

2)      Mengikat hati sebelum mejelaskan

فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك فاعف عنهم واستغفر لهم وشاورهم في الأمر فإذا عزمت فتوكل على الله إن الله يحب المتوكلين(آل عمران : 159)

3)      Mengenalkan sebelum memberi beban

فاعلم أنه لاإله إلا الله (محمد : 19)

4)      Bertahap dalam memberi beban

وقرآنا فرقناه لتقرأه على الناس على مكث ونزلناه تنزيلا (الإسراء : 106)

وقال الذين كفروا لولا نزل عليه القرآن جملة واحدة كذلك لنثبت به فؤادك ورتلناه ترتيلا. ولا يأتونك بمثل إلا جئناك بالحق وأحسن تفسيرا (الفرقان : 32-33)

5)      Memudahkan, bukan menyulitkan

حدثنا محمد بن بشار قال حدثنا يحيى بن سعيد قال حدثنا شعبة قال حدثني أبو التياح عن أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:  يسروا ولاتعسروا وبشروا ولا تنفروا (رواه البخاري ومسلم)

6)      Yang pokok (ushul) sebelum yang cabang (furu)

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وأبو كريب وإسحاق بن إبراهيم جميعا عن وكيع قال أبو بكر حدثنا وكيع عن زكرياء بن إسحاق قال حدثني يحيى بن عبدالله بن صيفي عن ابن معبد عن ابن عباس عن معاذ بن جبل قال أبو بكر ربما قال وكيع عن ابن عباس أن معاذا قال بعثني رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إنك تأتي قوما من أهل الكتاب فادعهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأني رسول الله فإن هم أطاعوا لذلك فأعلمنهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد في فقرائهم فإن هم أطاعوا لذلك فأعلمنهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة فإن هم أطاعوا لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد في فقرائهم فإن هم أطاعوا لذلك فإياك وكرائم أموالهم واتق دعوة المظلوم فإنه ليس بينها وبين الله حجاب (رواه مسلم)

7)      Membesarkan hati sebelum memberi ancaman (targhib qabla tarhib)

يا أيها الذين آمنوا هل أدلكم على تجارة تنجيكم من عذاب أليم. تؤمنون بالله ورسوله وتجاهدون في سبيل الله بأموالكم وأنفسكم ذلكم خير لكم إن كنتم تعلمون. يغفر لكم ذنوبكم ويدخلكم جنات تجري من تحتها الأنهار ومساكن طيبة في جنات عدن ذلك الفوز العظيم. وأخرى تحبونها نصر من الله وفتح قريب وبشر المؤمنين. يا أيها الذين آمنوا كونوا أنصار الله كما قال عيسى ابن مريم للحواريين من أنصاري إلى الله قال الحواريون نحن أنصار الله فآمنت طائفة من بني إسرائيل وكفرت طائفة فأيدنا الذين آمنوا على عدوهم فأصبحوا ظاهرين (الصف :10-14)  

8)      Kita mendidik subyek didik/dakwah, bukan memamerkan kesalahanya.

 حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يزيد بن هارون ثنا جرير ثنا سليم بن عامر عن أبي أمامة قال ان فتى شابا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله ائذن لي بالزنا فأقبل القوم عليه فزجروه وقالوا مه مه فقال أدنه فدنا منه قريبا قال فجلس قال أتحبه لأمك قال لا والله جعلني الله فداءك قال ولا الناس يحبونه لأمهاتهم قال أفتحبه لابنتك قال لا والله يا رسول الله جعلني الله فداءك قال ولا الناس يحبونه لبناتهم قال أفتحبه لأختك قال لا والله جعلني الله فداءك قال ولا الناس يحبونه لأخواتهم قال أفتحبه لعمتك قال لا والله جعلني الله فداءك قال ولا الناس يحبونه لعماتهم قال أفتحبه لخالتك قال لا والله جعلني الله فداءك قال ولا الناس يحبونه لخالاتهم قال فوضع يده عليه وقال اللهم اغفر ذنبه وطهر قلبه وحصن فرجه فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء ( مسند أحمد بن حنبل    [ جزء 5 –  صفحة : 256 ) تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح رجاله ثقات رجال الصحيح (المكتبة الشاملة)

                                                           

والله أعلم بالصواب

Budi Mulia Banteng III, Jum’at 5 Ramadhan 1429 H


[1] Makalah dipresentasikan pada Pelatihan Muballigh Guru Muhammadiyah PDm Wonosobo di Pusbang Kaliurang, Jum’at 5 Ramadhan 1429 H/5 September 2008

[2] HR Bukhari

[3] HR Tirmidzi, dishahihkan oleh Albani.

[4] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam Syed M Naquib Al-Attas(Bandung:Mizan, 2003), Cet. 1, hal. 174

[5] Ibid., hal. 181-182

[6] HM Amien Rais, “Dakwah Menghadapi Era Informasi” dalam Kata Pengantar pada “Dakwah Islam Kontemporer : Tantangan dan Harapan (Yogyakarta : MTDK-PPM, 2004), hal. v

[7] HR Muslim

[8] Alu Imran : 104

[9] HR Muslim

[10] Abdul Karim Zaydan, Ushul al-Dakwah (Beirut: El-Risalah Publisher, 1420), hal. 310-311

[11] Ibid.l…hal. 311-312

[12] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), cet ke-4, hal. 445

[13] Dalam kitab beliau “Islamuna” dinukil oleh Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq (Yogyakarta : LPPI, 2004) Cet. VII, hal. 29

[14] HR Baihaqi. Dishahihkan oleh Al-Bani dalam Silsilat al-Ahadits al-Shahihah, Jilid 3 hal. 187

[15] Selengkapnya ayat tersebut berbunyi :

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

[“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”]

[16] KRH Hadjid, Pelajaran KHA Dahlan : 7 Falsafah Ajaran dan 17 Kelompok Ayat Al-Qur’an[Yogyakarta: LPI PPM, 2006], Cet. Ke-2, hal. 45-47

[17] Ibid…hal. 48

[18] Ibid…hal. 48-51

[19] Imam Al-Ghazali, Mengobati Penyakit Hati, Terjemah : Ahmad Sunarto [Jakarta: Pustaka Amani, 1995] Cet. Ke-1, hal.33

[20] Jum’ah Amin Abdul Aziz, Fiqih Dakwah : Studi atas Berbagai Prinsip dan Kaidah yang Harus Dijadikan  Acuan Dalam Dakwah Islamiyah, Terj. Abdus Salam Masykur (Solo: Intermedia, 2005), hal. 175-381

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

*

Jadwal Sholat


Jadwal Sholat Di Beberapa Kota