Al-Alûsy dan Tafsirnya Rûh al-Ma’ânî

Nama lengkapnya Abû al-Tsanâ Syihâb al-Dîn al-Sayyid Mahmûd Afandî al-Alûsy al-Baghdâdy. Beliau lahir pada Jum’at 14 Sya’ban 1217 H di Kargh, kota Baghdad.[1] Kata “al-Alûsy” pada bagian akhir namanya merupakan penisbatan kepada desa bernama “Alûs”, sebuah pulau yang terletak di tengah Sungai Eufrat yang membentang antara Syam dan Baghdad, di desa inilah asal-muasal nenek moyang al-Alûsy.[2] Beliau wafat di kampung kelahirannya (Kargh) pada hari Jum’at, 25 Dzul Qa’dah 1270 H.[3]

Beliau dikenal sebagai orang yang sangat cerdas, menguasai berbagai cabang ilmu, baik yang ma’qûl danmanqûl, furû’ maupun ushûl. Juga dikenal sebagai muhaddits dan mufassir yang tak tertandingi pada masanya. Al-Dzahabî menyebutnya sebagai Syaikh al-‘ulamâ’ (guru para ilmuwan), âyah min âyâtillâh(sebagai tanda kekuasaan Allah) dan nâdirah min nawâdir al-ayyâm (sebagai satu-satunya yang unggul pada masanya). Al-Alûsy menimba ilmu kepada para ulama di negerinya. Selain kepada ayahnya sendiri, ia juga berguru kepada Syaikh Khalid al-Naqsyabandi dan Syaikh Ali al-Swaidî.[4]

Pada usia 13 tahun, Al-Alûsy telah mulai mengajar dan mengarang. Ia mengajar secara berpindah-pindah di beberapa perguruan di Baghdad. Ia juga tercatat sebagai orang yang sangat empati dan peduli terhadap murid-muridnya dengan menanggung biaya sandang, pangan, dan papan  yang mereka butuhkan. Pada tahun 1248 al- Alûsy diberi amanat untuk memegang kendali fatwa sekaligus pemimpin wakaf Perguruan (madrasah) al-Marjaniyah yang secara faktual mensyaratkan pemimpinnya adalah seorang tokoh ilmuan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penduduk Baghdad pada masa itu telah menaruh rasa hormat dan apresiasi yang tinggi kepada al-Alûsy atas segala keutamaannya.[5]

Setelah kurang lebih 15 tahun memegang kendali fatwa di negerinya, (1248-bulan Syawwal 1263 H), al-Alûsy konsentrasi menulis tafsirnya hingga tuntas. Pada tahun 1267 H, ia pergi ke Konstantinopel dan menunjukkan karyanya kepada Sulthan ‘Abd al-Majîd Khân yang menerimanya dengan penuh rasa bangga. Tahun 1269 al-Alûsy kembali ke Baghdad dan berada di sana hingga akhir hayat.[6] Selain sebagai seorang ilmuan yang menguasai pemikiran dan aliran akidah, al-Alûsy juga dikenal sebagai pemegang teguh akidah salaf yang bermazhab Syafi’i, meskipun di dalam beberapa fatwanya, tidak sedikit ia mengikuti mazhab Hanafy yang menjadi mazhab mayoritas di negeri-negeri yang dikuasai oleh Daulah Utsmaniyah pada masa itu.[7]

Menurut penuturannya sendiri, al-Alûsy memanfaatkan waktunya untuk menimba ilmu kepada para ulama di negerinya masa itu. Bahkan sejak masa muda telah muncul keinginan untuk menulis kitab tafsir. Namun tak kuasa pula ia menyembunyikan kebimbangan dalam dirinya, sehingga pada suatu malam di bulan Rajab tahun 1252 H, ia bermimpi bahwa Allah SWT memerintahkannya untuk mempertemukan antara langit dan bumi. Lalu ia mengangkat sebelah tangannya ke langit  sembari meletakkan yang satu lagi ke dalam dasar lautan. Ia pun berusaha mencari makna di balik mimpi tersebut, hingga ia dapatkan bahwa itu merupakan isyarat agar dirinya menulis tafsir.

Al-Alûsy tidak menunda waktu, bermula pada tanggal 16 Sya’ban tahun itu (1252 H) ia mulai menggoreskan pena untuk menulis tafsir ketika usianya 34 tahun. Tepatnya pada Selasa 4 Rabi’ul Awwal 1267 H, ia berhasil menyelesaikan karya terbesarnya. Selanjutnya ia berusaha mencari nama yang tepat untuk tafsirnya, lalu disodorkanlah kepada Perdana Menteri Ali Ridha Basya yang kemudian menamainya dengan Rûh al-Ma’âny Fi Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adzîm wa Al-Sab’i al-Matsâny yang terkenal hingga saat ini.[8]

Dari sisi kandungan tafsir ini merupakan karya yang komprehensif, yang mengulas pandangan ulamasalaf baik secara riwâyah maupun dirâyah. Ia tidak luput memaparkan pandangan-pandangan ulamakhalaf dengan penuh amanah dan ketelitian, di samping merangkum dari kitab-kitab tafsir sebelumnya seperti tafsir al-Kasysyaf (karya Zamakhsyari, w. 538 H), tafsir Abu Su’ud (w. 982 H). tafsir al-Baydlawi (w. 691 H) dan, tafsir al-Razi (w. 606 H). Biasanya al-Alûsy menukil pendapat para pendahulunya dengan menyebut Syaikh al-Islâm bagi Abu Su’ud, al-Qadli jika ia menukil dari al-Baidlawi dan al-Imam jika ia menukil al-Razi.

Dari pemaparan pendapat para ulama terdahulu dapat diketahui bahwa al-Alûsy adalah seorang kritikus yang cermat dan bebas memosisikan diri terhadap pendapat-pendapat pendahulunya. Jika ia sependapat maka al-Alûsy akan tegas menyatakan dukungannya dan melemahkan pendapat yang lainnya.[9]

Al-Alûsi adalah seorang sosok penganut akidah Salaf, maka tidak mengejutkan jika ia banyak memberikan kritikan tajam atas pandangan-pandangan Zamakhsyari, yang dikenal sebagai penyokong akidah Mu’tazilah yang fanatik. Ia juga memberikan kritik terhadap kaum Syi’ah yang banyak mendiskreditkan para Sahabat Nabi SAW.[10]

Secara berurutan al-Alûsi juga berbicara tentang problematika kosmik (kauniyah), sebagaimana ia mendeskripsikan pendapat para ahli filsafat dan ahli falaq dengan sanggahan ataupun penguatan. Adapun dari segi tata bahasa, maka al-Alûsy terlihat memberikan komentar terlalu luas sehingga terkesan ia melampaui kapasitasnya sebagai seorang mufasir. Dalam masalah-masalah fiqhiyah, ia mengemukakan pandangannya terhadap ayat-ayat hukum tanpa sikap fanatik di antara pendapat fuqahâ’ yang lain. Tentang riwayat isra’iliyat dan berita-berita dusta atas nama Rasulullah SAW yang dicantumkan oleh para mufasir sebelumnya –karena dianggap shahih- al-Alûsy memberikan kritik yang sangat keras, yang kadang terkesan adanya sikap angkuh pada dirinya.[11]

Dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, al-Alûsi tidak lupa mengungkapkan tentang variasi bacaan (qirâat), meskipun tidak membatasi diri pada bacaan yang mutawâtir, sebagaimana ia tak lupa menerangkan tentang munâsabât (keserasian) hubungan antar surat dan antar ayat, termasuk asbâb al-Nuzûl. Dalam mengemukakan pendapatnya tentang kebahasaan, al-Alûsy banyak menukil syair-syair Arab sebagai legitimasi (syawâhid).[12]

Sebagai catatan akhir atas tafsir Ruh al-Ma’ânî, sebagian ahli memasukkan karya ini ke dalam kategoritafsîr al-Isyârî karena al-Alûsi tidak jarang menerangkan makna implisit yang terkandung dalam sebuah ayat, di samping kandungan makna yang bersifat eksplisit. Namun, Al-Dzahaby tidak sepakat dengan penilaian semacam ini karena memang yang demikian bukanlah tujuan utama dari al-Alûsy. Dengan ungkapan lain dapat dinyatakan bahwa hal ini merupakan konsekuensi logis dari sosok al-Alûsy sendiri yang memang sejak awal tampil sebagai “mufasir ensiklopedis” yang kuat dengan kritik-kritiknya. Bahkan al-Dzahabi menegaskan bahwa Rûh al-Ma’ânî merupakan karya terpenting di antara kitab-kitab tafsir dengan metode bi al-ra’yi al-jâiz.[13]


[1] Abû al-Yaqdhân ‘Athiyah al-Jabûry, Dirâsât … hal. 112

[2] Husein al-Dzahabî, al-Tafsîr…Jilid 1, hal. 360.

[3] Ibid., hal. 362

[4] Ibid., hal. 360

[5] Abû al-Yaqdhân ‘Athiyah al-Jabûry, Dirâsât … hal. 113

[6] Husein al-Dzahabî, al-Tafsîr…Jilid 1, hal. 361

[7] Ibid.

[8] Abû al-Yaqdhân ‘Athiyah al-Jabûry, Dirâsât … hal. 114-115, Husein al-Dzahabî, al-Tafsîr…Jilid 1, hal. 362-363.

[9] Abû al-Yaqdhân ‘Athiyah al-Jabûry, ibid… hal. 115, Husein al-Dzahabî, ibid., hal. 364.

[10] Husein al-Dzahabi, Ibid., hal. 364-365.

[11] Ibid., hal. 366-368

[12] Ibid., hal. 369

[13] Ibid., hal. 369-370

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

*

Jadwal Sholat


Jadwal Sholat Di Beberapa Kota