Berobat Cara Nabi : Seputar Permasalahan Ruqyah

Selain berfungsi sebagai petunjuk bagi orang-orang yang beriman, Allah s.w.t menegaskan bahwa Al-Qur’an sebagai penyembuh. Perhatikan tiga ayat berikut ini :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِين

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus : 57)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi kesembuhan dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Al-Isra’ : 82)

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآَنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آَيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آَذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

“Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (Fushshilat : 44)

Penawar atau penyembuhan terbaca di atas mencakup segala penyakit hati dan fisik, dzahir dan bathin. Karena itu kita dapatkan para ulama melahirkan karya tulis yang tidak sedikit tentang permasalahan ini. Metode penyembuhan dengan media ayat-ayat Al-Qur’an disebut sebagai ruqyah.

Ruqyah” (رقيـة) bentuk pluralnya “ruqa” (رُقَـى ) berasal dari kata “رَقَـى”: “رَقَيْتُهُ أَرْقِيهِ” bermakna secara leksikal : “عَوَّذْتُـهُ بِاَللَّهِ” (aku mohon perlindungannya dari Allah).[1] Adapun secara istilah syar’i ia berarti mantera atau jampi yang digunakan untuk mengobati orang yang terkena musibah. Misalnya, orang yang terserang penyakit panas, kemasukan jin dan lain-lain. Ruqyah disebut juga sebagai azimat.[2]

Ruqyah terdiri dari dua jenis; ruqyah syar’iyyah (yang sesuai dengan syariat); dan ghair syar’iyyah/syirkiyah (yang tidak sesuai dengan syariah, berunsur syirik).

Pertama : Ruqyah syar’iyah adalah dengan membacakan ayat-ayat al-Qur’an, mohon perlindungan dari Allah s.w.t untuk si penderita dengan asma’ dan shifat-shifatNya, atau sesuai dengan penjelasan Rasulullah s.a.w dalam sunahnya. Bagian ini hukumnya dibolehkan (mubah). Hal ini berdasarkan hadis berikut :

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأَشْجَعِىِّ قَالَ كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ »

Sahabat ‘Awf Ibn Malik al-Asyja’iy meriwayatkan, dulu, ketika kami berada pada masa jahiliah, kami melakukan ruqyah. Lalu kami tanyakan kepada Rasulullah s.a.w. Beliau menjawab :”Perlihatkan ruqyah kalian kepadaku, tidak apa-apa selama tidak mengandung unsur kesyirikan.[3]

Al-Imam al-Suyuthi menjelaskan kesepakatan para ulama tentang mubahnya ruqyah jika memenuhi tiga persyaratan; hendaknya dilakukan dengan Al-Qur’an atau asma’ dan shifatNya; dengan bahasa Arab atau yang diketahui secara pasti maknanya; dan meyakini bahwa ruqyah terasebut tidak berpengaruh murni dengan dirinya tetapi dengan kekuasaan Allah s.w.t.[4]

Caranya ialah dengan dibacakan lalu ditiupkan kepada si penderita. Atau bisa juga dengan membacakannya di air lalu diminum, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis berikut ini :

أَنَّهُ  صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَى ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ وَهُوَ مَرِيضٌ فَقَالَ « اكْشِفِ الْبَأسَ رَبَّ النَّاسِ ». ثُمَّ أَخَذَ تُرَابًا مِنْ بَطْحَانَ فَجَعَلَهُ فِى قَدَحٍ ثُمَّ نَفَثَ عَلَيْهِ بِمَاءٍ وَصَبَّهُ عَلَيْهِ.

Bahwasanya Rasulullah s.a.w mendatangi Tsabit ibn Qais yang dalam keadaan sakit, lalu berkata “sembuhkan penyakit ini ya Rabbannas”, kemudian beliau mengambil tanah dari Bathan, diletakkannyadalam gelas, lalu menyemburkan air padanya dan menuangkannya di atasnya.[5]

Kedua : Ruqyah syirkiyah ialah di dalamnya terdapat unsur kesyirikan seperti memohon kepada selain Allah s.w.t.; meruqyah dengan nama-nama jin, malaikat, nabi atau benda-benda alam yang dikeramatkan. Termasuk dalam hal ini ruqyah dengan bahasa selain Arab yang maknanya tidak diketahui secara pasti.Ruqyah jenis ini diharamkan.[6]

Barangkali ada di antara kita yang membaca hadis Nabi s.a.w yang berasal dari sahabat Ibnu Mas’ud r.a. berikut ini :

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْك

“Sesungguhnya ruqyah, jimat dan pelet itu adalah kesyirikan.”[7]

Secara harfiah tampak ada kontradiksi dengan hadis sebelumnya. Benarkah?

Sesungguhnya hadis terdahulu dan hadis ini tidaklah kontradiktif. Hadis Ibnu Mas’ud r.a. tertulis di atas bersifat umum, dan dikhususkan oleh hadis ‘Auf ibn Malik al-Asyja’iy di mana Rasulullah s.a.w membolehkan ruqyah selama tidak mengandung unsur kesyirikan;

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأَشْجَعِىِّ قَالَ كُنَّا نَرْقِى فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِى ذَلِكَ فَقَالَ « اعْرِضُوا عَلَىَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ »[8]

Ruqyah yang sesuai dengan ajaran Rasulullah s.a.w telah dipraktekkan oleh para sahabatnya seperti dalam riwayat berikut ini :

عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ دَخَلْتُ أَنَا وَثَابِتٌ عَلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فَقَالَ ثَابِتٌ يَا أَبَا حَمْزَةَ اشْتَكَيْتُ. فَقَالَ أَنَسٌ أَلاَ أَرْقِيكَ بِرُقْيَةِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ بَلَى . قَالَ « اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا »[9]

Pada bagian lain, dijelaskan pula sebagai berikut :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الرُّقَى فَجَاءَ آلُ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ كَانَتْ عِنْدَنَا رُقْيَةٌ نَرْقِى بِهَا مِنَ الْعَقْرَبِ وَإِنَّكَ نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى. قَالَ فَعَرَضُوهَا عَلَيْهِ. فَقَالَ « مَا أَرَى بَأْسًا مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَنْفَعْهُ ».[10]

Keterangan di atas cukup bagi sebagai dasar bagi kita bahwa, ruqyah yang diperbolehkan dalam syariat ialah ruqyah yang telah dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w dan bebas dari unsur kesyirikan. Bahkan beliau pun, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, diruqyah oleh malaikat Jibril‘alaihissalam.

Dalam hadis lain Rasulullah s.a.w menerangkan demikian :

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ ». قَالُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَلاَ يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ».[11]

Dalam hadis tersebut secara eksplisit Rasulullah s.a.w menegaskan bahwa di antara ciri-ciri umatnya yang masuk surga tanpa hisab; tidak meminta diruqyah; tidak menyandarkan nasib dengan media burung; tidak berobat dengan besi yang dipanaskan; dan tawakkal sepenuhnya kepada Allah s.w.t.

Membaca hadis tersebut, secara implisit, Rasulullas s.a.w menganjurkan kita untuk tidak meminta diruqyah oleh orang lain. Oleh karena itu, sikap terbaik kita ialah tidak meminta diruqyah oleh orang lain sekiranya kita mampu melakukannya sendiri. Karena tekstual Rasulullah s.a.w menyatakan “لاَ يَسْتَرْقُونَ” (mereka tidak minta diruqyah). Tujuannya jelas, agar harapan masuk surga tanpa hisab tidak hilang begitu saja sebagaimana hadis terbaca di atas. Di sini Rasulullah s.a.w membedakan antara orang yang meruqyah diri sendiri (الراقى) dengan orang yang minta diruqyah (مسترقي). Mengapa demikian?

Syaikh Abdurrahman Ibn Hasan Alu Syaikh, dalam kitabnya Fathul Majid syarh Kitab Tauhid menjelaskan bahwa orang yang meminta diruqyah oleh orang lain memiliki kecenderungan dan potensi untuk memalingkan hatinya dan bergantung kepada selain Allah s.w.t., sementara orang yang meruqyah dirinya sendiri justeru melakukan kebaikan yang dituntunkan oleh Rasulullah s.a.w (muhsin).[12]

Untuk memahaminya ada baiknya saya sampaikan cerita dari seorang sahabat saya. Beliau mempunyai seorang karib yang menderita satu penyakit. Beberapa kali ia berobat ke dokter dan hasilnya nihil. Kemudian pergi ke seorang tabib, sebut saja begitu, dengan keahlian pengobatan alternatif. Dengan media telur si tabib tadi ‘menjampi’ pasiennya dan ternyata memang ia sembuh. Saya tidak tau persis yang dilakukan oleh Tabib tadi ruqyah syar’iyah atau tidak (?). Intinya, karib sahabat saya tadi menjadi sangat kagum kepada si Tabib. Bahkan ia bersedia memberikan sejumlah dana untuk mendirikan semacam pondok ‘sekolah’ pengobatan alternatif.

Perhatikan pula tayangan televisi kita. Pada tayangan info komersial, secara jelas kita lihat sebagian masyarakat kita yang sedemikian antusias mencium tangan seorang ‘ahli alternatif’. Beliau diperlakukan secara berlebihan, bahkan, bisa dikatakan menjurus kepada kultus individu.

Cerita ini menjadi penegasan bahwa seseorang yang diruqyah, meskipun dengan cara yang disyari’atkan, berpotensi secara psikologis untuk tergantung kepada pengobatnya. Terlebih lagi jika cara-cara yang dilakukannya di luar ketentuan Rasulullah s.a.w. Jadi, sangatlah logis dan manusiawi, jika Rasulullah s.a.w dalam sabdanya, secara implisit,  membedakan antara meruqyah diri sendiri dan minta diruqyaholeh orang lain.

Di sisi lain, semaraknya acara ruqyah secara masal perlu dicermati dengan seksama. Saya belum mengetahui secara persis adakah dalil yang dapat kita jadikan dasar melakukan ruqyah secara masal. Secara sederhana saja begini. Jika Rasulullah s.a.w. menuntunkan kita untuk meruqyah diri sendiri, dan dengan begini kita mendapat jaminan masuk surga tanpa hisab. Mengapa kita harus merepotkan diri dengan sesuatu yang belum jelas duduk perkaranya. Bukankah lebih baik kita mengajarkan umat untuk serius mempelajari Al-Qur’an, termasuk cara membacanya, syukur-syukur sampai tingkat menghafal, sehingga mereka bisa mandiri dlam berinteraksi dengan Kalamullah itu?

Ada pula yang perlu diperhatikan. Tingkat pemahaman dan daya tangkap masyarakat kita. Kita sangat paham bahwa struktur budaya masyarakat Indonesia umumnya, terkhusus lagi orang Jogja, ‘masih’ sarat dengan berbagai nuansa; kebatinan, klenik, primbon, mantra-mantra jawa kuno, penanggalan, ramalan bintang dll., yang semua ini berakibat pada ‘tidak berfikir panjang’. Serba instan dan pragmatis, terlebih dalam jeratan kesulitan ekonomi yang kini melanda sebagian besar bangsa ini.

Saya sering merenung. Ketika di televisi ditayangkan acara-acara pengobatan; sebagian dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan sebagian lagi tidak. Malah menggunakan alat bantu kemenyan, bunga dan sejenisnya. Ada lagi yang berburu hantu dengan gaya khas yang memukau pemirsa. Tapi juga didahului dengan yasinanpara tetangga tuan rumah yang mau ‘dibersihkan’. Ada lagi yang mencoba mengobservasi alam ghaib. Dalam tayangan-tayangan ini tampak respon si pasien ataupun si pelaku tidak berbeda, atau paling tidak sangat mirip; kejang-kejang, teriak, menyerupai tingkah laku dan suara binatang tertentu dll.

Mari kita ingat baik-baik satu acara penyembuhan yang dilakukan oleh seorang Penginjil dari Kanada dan mengejutkan umat muslim di Jogjakarta. Dipublikasi di mana-mana bahwa pada hari Rabu 30 Mei 2007 s/d Sabtu 2 Juni 2007 akan diselenggarakan Jogja Festival 2007 yang berisikan acara pengobatan/penyembuhan masal yang diiringi dengan kebaktian rohani.

Dr. Peter Youngren adalah seorang Penginjil dari Kanada. Dia telah melakukan perjalanan penginjilan ke lebih dari 85 negara di dunia. Di Indonesia, dia telah mengadakan Festival Penyembuhan di berbagai kota seperti; Semarang, Bandung dan Manado. Dia juga telah melatih lebih dari 110 ribu pendeta dan pemimpin dalam seminar ‘Global Harvest Praise’. Tentang mukjizat atau penyembuhan yang ditawarkannya kepada masyarakat ia berpromosi :”Kita menawarkan hidup baru dalam Kristus. Saya percaya bahwa setelah mereka terima Kristus mereka akan mengerti bahwa mereka harus pergi ke gereja.”[13]Peter juga menyatakan demikian,”Saya sudah berkunjung ke banyak negara selama 30 tahun. Baik negara dengan penduduk hindu, Islam, Budha sampai penganut Atheis sekalipun dan responnya cukup positif.”[14] Pada bagian lain iklannya disebut “yang buta bisa melihat”, “yang pincang bisa berjalan.”

Pertanyaan saya sangat sederhana. Siapa atau bagaimana kita menjelaskan kepada pemirsa Republik ini yang jumlahnya jutaan orang tersebut; ini sesuai syariat dan itu tidak sesuai syariat? Kalau pemirsa kita, umat kita, memiliki kapasitas yang pas dan tepat untuk mencerna dan menerimanya, mungkin saja kekhawatiran saya tidak bermasalah. Tapi sekali lagi, siapa yang menjamin itu? Wallahu a’lam.


[1] Al-Mishbah al-Munir III/459

[2] Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Kitab Tauhid, Terj. Ainul Haris (Yogyakarta: UII, 1420), hal. 77

[3] HR Muslim

[4] Syaikh Abdurrahman Ibn Hasan Alu Syaikh, Fath al-Majid Syarh Kitab al-Tauhid (Kuwait: Ihya al-Turats, 1414), hal. 108

[5] HR Abu Dawud

[6] Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Kitab Tauhid..hal. 78

[7] HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ahmad, dishahihkan oleh Al-Bani

[8] HR Muslim

[9] HR Bukhari

[10] HR Muslim

[11] HR Bukahri Muslim, Lafadz tertulis riwayat Muslim

[12] Syaikh Abdurrahman Ibn Hasan Alu Syaikh, Fath al-Majid Syarh Kitab al-Tauhid (Kuwait: Ihya al-Turats, 1414), hal. 58

[13] Lihat, Bethanygraha.org dan Wikipedia

[14] Lihat, “Awas !!! Pemurtadan di Balik Pengobatan dalam bulletin At-Tauhid, Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah (Yogyakarta: Divisi Dakwah Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary), Edisi : Tahun II, 8 Jumadil Awal 1428 H/25 Mei 2007, hal. 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

*

Jadwal Sholat


Jadwal Sholat Di Beberapa Kota