“Ijtihad” Dakwah Kultural

refleksi-2016
Dari perspektif paradigma ilmu (dakwah), sejatinya dakwah itu bertumpu pada dua hal; sosialisasi nilai (“membacakan ayat-ayat-Nya” [tilawah] /QS. Al-Jumu’ah:2) dan internalisasi nilai (“mensucikan dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah” [tazkyah & ta’lim] /QS. Al-Jumu’ah:2). Keduanya membutuhkan “komunikasi” dan “keteladanan” yang berorientasi kepada pencerahan secara multi-dimensional; kognitif, afektif, dan psikomotorik. Proses ini diharapkan melahirkan transformasi (taghyir) pada ranah individu dan sosial secara “manusiawi”, jauh dari rekayasa-rekayasa yang tidak autentik dalam beragama, yang justeru (na’udzubillah) pada titik tertentu melahirkan sikap paradoks, dan anomali beragama.

Keragaman perspektif dan cara pandang dalam mengupayakan perubahan-perubahan (dakwah transformatif), dalam hemat saya, hanyalah semata dalam domain “ijtihadiyah”, dan bukan “qath’iyah” yang absolut. Dalam perspektif dakwah semacam ini seringkali kita berhadapan pada dua hal yang kontradiktif; merelakan kemunkaran itu berjalan secara “totalitas”, ataukah memberikan “pilihan alternatif” yang lebih positif dan menopang tujuan perubahan itu sendiri.

Nah, di sini, kita fokus pada ikhtiar menawarkan “peristiwa budaya” yang bermotifkan Islam (bukan kreasi syariah), bukan pula “mengimitasi” budaya sekuler (tasyabbuh) agar tampak “islami”. Sekali lagi, bukan “semata” karena hura-hura di tempat dan waktu tertentu, lalu kita buat tandingannya menjadi “refleksi” atau “muhasabah”, dan sejenisnya. Melainkan, konteks peristiwa dan waktu-lah yang membuat tema dakwah itu terasa aktual dan relevan. Jadi pertepatan waktu peristiwa yang kita lalui dengan peristiwa yang dilakukan secara spesifik oleh penganut agama lain, ataupun kelompok pemuja diri atau materi, tak otomatis menyamakan keduanya secara total. Toh pada malam-malam yang lainpun kita istiqamah melakukan kajian, refleksi, muhasabah dan sejenisnya. Semata-mata momentumlah yang menuntut perlunya aksentuasi dan penyesuaian tema dan arah kajian itu. Tak ada maksud dan niatan lain.

Dari sudut teologis dan keimanan, saya pribadi berpandangan, sungguh tak ada keistimewaan apapun yang melekat dan menyertai awal ataupun akhir tahun kalender matahari, yang sejatinya, secara defacto kita konsisten menggunakannya sepanjang hari-hari kita. Tentu berbeda dengan kalender Qomariyah yang memiliki basis spiritual, bersebab diasaskan pada peristiwa Hijrah Nabawiyah, dan ditradisikan oleh Khalifah Mulia, Amirul Mukminin Umar ibn Khattab r.a. di masa pemerintahannya.

Sekali lagi, persamaan waktu yang terlalui, tak selalu bermakna “menandingi”, apalagi “menyamakan”. Ini hanyalah peristiwa budaya yang samasekali tak bermaksud, apalagi diniatkan untuk mengkreasi ajaran baru. Ada rasa tak rela, bila kesesatan demoralisasi sebagian generasi muslim (yang masih berjarak dari agamanya) berjalan begitu saja, tanpa adanya ikhtiar untuk mengingatkan mereka bahwa hidup itu punya tujuan, juga kepatuhan tak bersyarat kepada Yang Menggariskan tujuan itu sendiri : Allahu Rabbunaa!.

Muhammadiyah menyebutnya “dakwah kultural”. Semoga menjadi bagian dari ijtihad yang tak menyimpang dalam upaya membumikan dakwah di Republik ini, menuju Indonesia yang beradab dan berkemajuan. Wallahu A’lamu bish-shawab.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

*

Jadwal Sholat


Jadwal Sholat Di Beberapa Kota