Ikhlas : Kekuatan Tak Terkalahkan

قَالَ فَبِعِـزَّتِكَ لأُغْوِيَنَّــهُمْ أَجْمَعِينَ. إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

(Shad : 82-83)

Makna Keikhlasan

Ketika Adam telah sempurna diciptakan, Allah s.w.t bertitah agar seluruh malaikat sungkur bersujud sebagai symbol penghormatan atas kemuliaannya. Tak satupun diantara mereka membangkang terhadap perintah tersebut kecuali Iblis. Allah s.w.t. bertanya,”Hai Iblis, apa gerangan yang membuatmu enggan bersujud kepada sesuatu yang telah Kuciptakan dengan kedua TanganKu. Apakah kau menyombongkan diri ataukah kau merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi derajatnya?.” Dengan angkuh Iblis menyatakan keengganannya untuk bersujud karena ia merasa lebih baik; ia tercipta dari api sementara Adam tercipta dari tanah!. Sikap rasialis inilah kemudian membuatnya terusir dari surga dan menjadikannya sebagai makhluk terkutuk, “Sesungguhnya kutukanKu tetap atasmu sampai hari pembalasan!”.

Iblis “legowo” dengan keputusan tersebut. Namun ia tak kurang akal, Iblis mohon kepada Allah agar masa hidupnya ditangguhkan (langgeng) sampai hari ketika sangkakala ditiupkan, sebagai pertanda kematian semua makhluk. Iblispun bersumpah “Maka demi kekuasaan dan keagungganMu ya Rabb sungguh aku sesatkan semua keturunan Adam, kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas di antara mereka.”(Shad : 72-83)

Para mufassir di antaranya Imam Thabari, Syaukani, al-Baidlawi dll. menjelaskan “mukhlasin” (dengan membaca fathah) pada ayat terbaca di atas bermakna orang-orang yang dimurnikan oleh Allah s.w.t. hanya untuk beribadah kepadaNya dan diselamatkan dari tipu daya Iblis. Sebagian yang lain di antaranya al-Alusi, al-Qurthubi dan juga al-Baidlawi meriwayatkan bacaan dengan kasrah sehingga ia berbunyi “mukhlishin” yang berarti orang-orang yang mengikhlaskan (memurnikan) hati mereka untuk beribadah hanya kepada Allah s.w.t., membersihkan diri dari segala unsur yang merusak dan riya’.

Perbedaan qira’ah (bacaan) tersebut tidaklah kontradiktif. Keduanya dapat dipadukan untuk memahami bahwa kita takkan pernah selamat dari segala tipu daya Iblis di dunia ini kecuali dengan sikap ikhlas, sementara ikhlas merupakan bagian yang tak terpisahkan dari karunia Allah s.w.t. Ini berarti, keikhlasan hati yang telah kita raih tidak lain ialah atas izin, kehendak dan karuniaNya semata.

Narasi terbaca pada surat Shad (38):72-73 di atas, dan ditegaskan pula dalam al-Hijr (15):39-42 mengajarkan bahwa, kapasitas apapun yang kita miliki baik itu berupa ilmu pengetahuan, kehormatan, jabatan, integritas, harta, keturunan dan lain-lain takkan mampu menyelamatkan kita dari tipu daya Iblis yang sangat dahsyat itu. Dalam berinteraksi dengan jebakan dan godaan Iblis satu-satunya yang bermakna dan tak terkalahkan ialah “keikhlasan”. Wajar jika imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Dinmenulis demikian “Telah terbuka bagi mereka yang memiliki kejernihan hati melalui penginderaan iman dan cahaya Al-Qur’an bahwa sekali-kali tidaklah seseorang sampai pada kebahagiaan hakiki kecuali dengan ilmu dan ibadah. Manusia semuanya sengsara kecuali mereka yang berilmu. Orang-orang yang berilmu semuanya sengsara kecuali mereka yang mengamalkan ilmunya. Orang-orang yang mengamalkan ilmunyapun semuanya sengsara kecuali mereka yang ikhlas. Sedangkan mereka yang ikhlas berada pada marabahaya yang besar karena beramal tanpa niat berarti kesia-siaan dan niat tanpa kemurnian berarti riya’. Sedangkan orang yang berlaku riya’ cukuplah dikatakan sebagai munafiq.

… فقد انكشف لأرباب القلوب ببصيرة الإيمان وأنوار القرآن أن لا وصول إلى السعادة إلا بالعلم والعبادة فالناس كلهم هلكى إلا العالمون والعالمون كلهم هلكى إلا العاملون والعاملون كلهم هلكى إلا المخلصون والمخلصون على خطر عظيم فالعمل بغير نية عناء والنية بغير إخلاص رياء وهو للنفاق كفاء ومع العصيان سواء والإخلاص من غير صدق وتحقيق هباء وقد قال الله تعالى في كل عمل كان بإرادة غير الله مشوبا مغمورا وقدمنا إلى ما عملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا وليت شعرى كيف يصحح نيته من لا يعرف حقيقة النية أو كيف يخلص من صحح النية إذا لم يعرف حقيقة الإخلاص أو كيف تطالب المخلص نفسه بالصدق إذا لم يتحقق معناه فالوظيفة الأولى على كل عبد أراد طاعة الله تعالى أن يتعلم النية أولا لتحصل المعرفة ثم يصححها بالعمل بعد فهم حقيقة الصدق والإخلاص اللذين هما وسيلتا العبد إلى النجاة والخلاص (إحياء علوم الدين ومعه تخريج الحافظ العراقي – ج 6 / ص 462 كتاب النية والإخلاص والصدق).

Barangkali sebagai sebuah ilustrasi ada baiknya kita nukil kisah berikut ini. Diriwayatkan dari Al-Hasan berkata, “Ada sebuah pohon yang disembah manusia selain Allah. Maka seseorang mendatangi pohon tersebut dan berkata, ‘Saya akan tebang pohon itu.’ Maka ia mendekati pohon tersebut untuk menebangnya sebagai bentuk marahnya karena Allah. Maka syetan menemuinya dalam bentuk manusia dan berkata, ‘Engkau mau apa?’ Orang itu berkata, ‘Saya hendak menebang pohon ini karena disembah selain Allah.’ Syetan berkata, ‘Jika engkau tidak menyembahnya, maka bukankah orang lain yang menyembahnya tidak membahayakanmu?’ Berkata lelaki itu, “Saya tetap akan menebangnya.’

Berkata syetan, ‘Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik bagimu? Engkau tidak menebangnya dan engkau akan mendapatkan dua dinar setiap hari. Jika engkau bangun pagi, engkau akan dapatkan di bawah bantalmu.’ Berkata si lelaki itu, ‘Mungkinkah itu terjadi?’ Berkata syetan, ‘Saya yang menjaminnya.’

Maka kembalilah lelaki itu, dan setiap pagi mendapatkan dua dinar di bawah bantalnya. Pada suatu pagi ia tidak mendapatkan dua dinar di bawah bantalnya, sehingga marah dan akan kembali menebang pohon. Syetan menghadangnya dalam wujud aslinya dan berkata, ‘Engkau mau apa?’

Berkata lelaki itu, ‘Saya akan menebang pohon ini karena disembah selain Allah.’ Berkata syetan, ‘Engkau berdusta, engkau akan melakukan ini karena diputus jalan rezekimu.’ Tetapi lelaki itu memaksa akan menebangnya, syetan memukulnya, mencekik dan hampir mati, kemudian berkata, ‘Tahukah kau siapa saya?’ Maka ia memberitahukan bahwa dirinya adalah syetan.

Syetan berkata, ‘Engkau datang pada saat pertama, marah karena Allah. Sehingga saya tidak mampu melawanmu. Oleh karena itu saya menipumu dengan dua dinar. Dan engkau tertipu dan meninggalkannya. Dan pada saat engkau tidak mendapatkan dua dinar, engkau datang dan marah karena dua dinar tersebut, sehingga saya mampu mengalahkanmu.’”

Ikhlas adalah pembersihan hati dari segala noda, sedikit maupun banyak, sehingga kita mencapaitaqarrub kepada Allah s.w.t. hanya karenaNya semata. Tak mungkin hal ini kita raih kecuali atas dasar cinta (mahabbah) kepada Allah dan berorientasi akherat. Ikhlas adalah  akumulasi dan titik perpaduan sejati antara hati yang bersih dan akhlak yang terpuji. Hati yang didominasi oleh mahabbah dan orientasi akherat melahirkan kebiasaan hidup yang penuh dengan nilai-nilai ilahiah. Demikian pula hati yang sarat dengan tujuan duniawi, jabatan, kekayaan dan apa saja selain Allah s.w.t. seluruh gerak hidupnya akan melahirkan malapetaka yang membinasakan dirinya sendiri.

Merubah Paradigma : Dari Intelejensi Kerja Otak ke Intelejensi Hati

Sebagian orang merumuskan komponen keikhlasan sebagai perpaduan sikap; sabar, syukur, sabar, fokus, tenang dan bahagia. Oleh karenanya kaikhlasan pasti membuat kita lebih tenang, bahagia dan sukses dalam hidup ini. Percaya terhadap keikhlasan seperti ini, sesungguhnya dapat dianalogikan dengan sikap kita terhadap teknologi. Sebuah pesawat hand phone umpamanya yang kita gunakan untuk mengirim pesan singkat. Ikuti saja semua prosedur standarnya, lalu klik send! Artinya, meyakini tuntutan keikhlasan bukan karena sebuah keterpaksaan untuk meyakininya, tetap karena memang sebuah proses keseharian yang sangat alamiah dalam kehidupan kita.

Di mana kita yakin, kata Erbe Sentanu, bahwa, ketika kita sudah ikhlas dengan prosedur yang benar maka kita akan semakin dekat dengan Allah sehingga niat-niat kita lebih mudah untuk diraih. Nah, jika ada niat-niat kita yang barangkali belum diraih, barangkali kita dituntut untuk lebih menyempurnakan lagi prosedur keikhlasan dalam pikiran dan hati kita.

Penemuan saintifik di bidang genetika dan neurobiologi semakin menegaskan bahwa setiap manusia diwariskan pada dirinya kecenderungan yang membuat otaknya haus sekaligus siap menerima tuntutan “kekuatan yang lebih tinggi”. Kekuatan Dzat Yang Maha segalanya. Demikian dinyatakan oleh  Dean Hamer dalam bukunya, Gen Tuhan.

Dalam keyakinan kita, Al-Qur’an juga sejak awal digemakan telah mengajarkan kita tentang konsepfithrah yang takkan mungkin “dibajak” sejak awal. Pembajakan terhadap fithrah ini terjadi dalam dinamika kehidupan manusia berikutnya yang sarat dengan tarik-menarik. Perhatikan surat Al-Rum ayat 29-30 berikut ini :

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَمَنْ يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ . فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Kemudian ditegaskan lagi oleh Rasulullah s.a.w. dalam sabdanya, diriwayatkan oleh Bukhari :

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

Dari perspektif inilah kita dituntut untuk melakukan transformasi pengembangan diri dari yang berbasis intelejensi pikiran dan kerja otak menuju intelejensi berbasisikan hati dan kinerja jantung; menggabungkan kekuatan sains dan motivasi ilahiyah (spiritual). Permasalahannya sederhana saja, betapa banyak orang yang melambungkan ego dan hidup penuh kenyamananan namun minus kebahagiaan hidup. Perubahan para-digma inilah yang oleh Sentanu disebutnya sebagai transformasi kuantum berikut ini :

Positive Thinking/فكر إيجابي

 

Goal Setting/تحديد الأهداف

Quantum Transformation/

تحويل الكم

 

Secara integrative mengandalkan kekuatan Allah kemudian kekuatan diri sendiri yang menghasilkan “power”

Positive Feeling/ شعور إيجابي

 

Goal Praying/ هدف الصلاة

Inilah sebuah proses yang menuntun kita meninggalkan dominasi otak (positive thinking) untuk masuk kepada kolaborasi hati (positive feeling). Sekaligus menyempurnakan proses keberhasilan individu maupun korporat dari metode goal setting yang amat memberatkan kepala menuju goal praying yang lebih menyejukkan hati.

Islam mengajarkan kita bahwa kehidupan hakiki dan abadi ialah kehidupan akherat. Dunia menjadi ladang investasi dan medan berkarya untuk meraik kehidupan yang kekal itu. Dunia bukan tujuan, melainkan sebuah ruang transit, untuk kemudian meneruskan perjalanan ke negeri akherat. Di sini, mati bermakna sebagai gerbang menuju kampung abadi. Juga menjadi pintu pertemuan kita dengan Sang Khaliq, Dzat Pencipta kita. Di sini pula, Rasulullah SAW melantunkan satu bagian dari do’a panjang beliau, “Ya Allah, anugerahi aku rasa rindu dan cinta untuk segera bertemu dengan Dzat-Mu Yang Maha Agung.”

KH Ahmad Dahlan memandang hidup dan mati seperti itu. Bagi beliau, mati adalah bahaya besar, tetapi lalai dan lupa akan kematian merupakan melapetaka yang jauh lebih besar. Beliua berwasiat, “Bermatjam-matjam tjorak ragamnya mereka mengadjukan pertanjaan tentang soal2 agama. Tetapi tidak ada satupun jang mengadjukan pertanjaan demikian : ’Harus bagaimanakah supaja diriku selamat dari api neraka? Harus mengerdjakan perintah apa? Beramal apa?Mendjauhi dan meninggalkan apa?’.”

Dengan pernyataan yang menggugah tersebut KH Ahmad dahlan sejatinya mengingatkan kita agar tidak mengalami disorientasi hidup. Kita diminta untuk selalu bermuhasabah tentang tujuan terjauh dari penciptaan dan kehidupan di dunia ini. Dari sini, tampak bahwa dorongan kematian menduduki posisi istimewa dalam pandangan beliau tentang makna kehidupan. Mati ditafsirkan sebagai sesuatu yang positif. Mahabbatullah dan pandangan akan akherat inilah yang kemudian yang melahirkan energi dan stamina  ruhiyah dahsyat pada diri beliau untuk berbuat dan berkarya nyata untuk umat. Beliau mentauladankan sikap ikhlas yang tinggi.

Keikhlasan membuat beban menjadi ringan, kesusahan menjadi hiburan, musibah menjadi pembersih hati, penjara menjadi pesantren, pengusiran menjadi rihlah gerakan, harta menjadi jalan kontribusi yang signifikan, dan kekuasaan menjadi amanah perjuangan. Demikian pula Ibnu Taimiyah mengajarkan kita. Kata beliau “Penahananku adalah perenungan, pengusiranku adalah tamasya, dan pembunuhanku adalah syahid.”

Ibnu Taymiyah dan KH Ahmad Dahlan mengajarkan kita tentang arti dan makna berbuat dalam bingkaian “lillahi ta’ala” yang aplikatif. Karakter dan orientasi manusia dalam berbuat diterangkan pula oleh Allah s.w.t. :”Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akherat.” (Alu Imran [3]:152). “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.   Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al-Isra’ [17]:18-19).

Motivasi beramal yang “hanya” berorientasi dunia samata juga dikecam oleh Rasulullah SAW dalam sabda berikut ini:  “Celakalah penghamba dinar. Celakalah penghamba dirham. Celakalah penghambakhamishah jika ia diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.”(HR Bukhari).

Khamishah adalah pakaian yang terbuat dari wool atau sutera dengan sulaman atau garis-garis yang menarik dan amat indah. Pesan moral dalam hadis di atas ialah teguran keras terhadap orang-orang yang sangat ambisius dengan kekayaan duniawi, sehingga ia terbelenggu dan menjadi penghamba harta benda. Mereka, tegas Nabi SAW, adalah berhak untuk celaka dan sengsara. Bandingkan dengan kisah tiga orang yang diadili oleh Allah SWT; seorang qari’/intelek yang hendak dihormati karena ilmunya, seorang yang mati syahid karena ingin dikatakan sebagai pahlawan pemberani dan seorang dermawan yang hendak populer dengan murah hatinya. Ketiganya bangga dengan prestasi hidupnya masing-masing. Tapi pada akhirnya, final kehidupan mereka mengenaskan : dicampakkan ke neraka!(HR Muslim).

Ciri-ciri orang Mukhlish

Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, keikhlasan akan terpancar sebagai karakter yang menghiasi kehidupan kita. Di antaranya ialah : Takut popularitas. Dari Ka’ab bin Malik r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah dua serigala lapar dikirim ke kambing lebih merusak melebihi ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan.” (HR At-Tirmidzi). Ka’ab bin Malik adalah seorang sahabat yang tidak ikut Perang Tabuk karena bersantai-santai. Akibatnya dia mendapat hukuman yang berat, diboikot Rasulullah s.a.w. dan para sahabat selama 50 hari. Tapi dia jujur dan mengatakan apa adanya pada Rasulullah saw., tidak seperti yang dilakukan oleh kaum munafik. Ibnu Katsir meriwayatkan, pada saat kondisi sulit dan dunia terasa sempit, muncul tawaran suaka politik dari Raja Ghasan. Ia berkata “ini ujian juga!”, lalu surat tersebut dibakar. Ka’ab ikhlas menerima ujian itu dan menolak segala tawaran politik Raja Ghasan dengan segala kemewahan dan popularitasnya. Dan dia selamat, lebih dari itu peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an.

Bukanlah yang dimaksud kemudian mengasingkan diri dari realitas kehidupan. Popularitas pada dasarnya bukanlah sesuatu yang tercela. Namun mencari popularitas, ketenaran, jabatan dan kedudukan dengan cara-cara ilegal dan bertentangan dengan syariat ataupun hukum positif adalah sesuatu yang wajib dijauhi. Apalagi dengan mengorbankan kehormatan orang lain. Rasulullah s.a.w. ditanya tentang seseorang yang berbuat kebaikan untuk Allah dan dipuji oleh orang lain. Beliau menjawab,”Itu adalah kebahagiaan orang mukmin yang disegerakan.”(HR Muslim).

Curiga pada diri sendiri. Orang yang ikhlas takkan pernah menyibukkan diri dengan ‘aib orang lain. Ia selalu jujur atas kekurangan dirinya sendiri dan ketidakmampuannya dalam menata batinnya. Suatu ketika aisyah bertanya kepada Rasulallah s.a.w. tentang orang yang dimaksud dalam firman Allah “ Dan orang-orang yang memberikan apa yang Telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (al-Mu’minun [23[:60), apakah mereka para pencuri, pezina dan pemabuk?. Beliau menjawab,”Tidak wahai A’isyah. Mereka justeru orang-orang yang gemar menunaikan shalat, puasa, shadaqah. Namun mereka selalu takut kepada Allah seandainya amalan mereka itu ditolak olehNya. Mereka adalah yang dimaksud dalam ayat Allah ‘Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.’” (al-Mu’minun [23[:61)

Tidak berharap pujian. Seorang yang mukhlish mengharapkan segalanya dari Allah s.w.t. semata. Kita takkan pernah tau apakah amal yang lampau diterima oleh Allah s.w.t. atau tidak sebagaimana kita takkan pernah mengetahui apakah yang akan menjadi kenyataan kita di esok hari. Lalu mengapa kita berharap pujian manusia? Bukankah itu karakter orang-orang munafiq yang dikecam dalam firmankanNya :”Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Alu Imran [3]:188)

Konsisten, sabar dan bertanggungjawab.Keikhlasan mendorong kita untuk selalu bertahan dengan stamina prima, sabar sekaligus bertanggungjawab atas amanah yang dibebankan kepada kita. Khalid bin Walid mengajarkan kita makna mendalam dalam hal ini. Ketika beliau memimpin sebuah pasukan sebagai panglima perang melawan kaum musyrikin dan meraih prestasi militer gemilang, Khalifah  Umar Ibn Khaththab memerintahkan untuk mundur dari jabatan panglima dan bergabung dengan pasukan Abu ‘Ubaidah ibn Jarrah sebagai tentara biasa. Tak sedikitpun ia canggung atau bahkan menggurui! Padahal ia sangat dikenal sebagai pimpinan tentara yang handal. Demikian pula potret keikhlasan yang diajarkan kepada kita oleh orang-orang seperti Bilal bin Rabah dan kelurga Yasir di masa awal Islam.

Seorang mukhlish takkan pernah memilah-milah tugasnya. Ia kerjakan dengan baik apa yang diamanahkan kepadanya. Karena ia tahu semuanya hanya lillahi ta’ala, bukan untuk apa dan siapapun. Rasulullah s.a.w bersabda, “Kebahagiaan bagi orang yang mengambil tali kekang kudanya pada jalan Allah, rambutnya terurai tak beraturan, kedua kakinya berdebu. Jika ia berada pada barisan belakang maka ia menetapi barisan tersebut. Dan jika ia berada pada barisan penjaga, maka ia pun menetapi barisan penjaga” (HR Bukhari).

Perhatikan pula lantunan Nabi Nuh ini ““Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku Telah menyeru kaumku malam dan siang,  Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).  Dan Sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. (Nuh [71]:5-7). Demikian pula orang-orang yang tegar di hadapan ashabul ukhdud berikut ini “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.  Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan Karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,  Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.” (Al-Buruj [85]:4-9)

Menjaga kesucian jiwa. Keikhlasan senantiasa bersemayam pada jiwa yang suci, hati yang bening. Sambil menunjuj dadanya Rasulullah s.a.w. berkata tiga kali “takwa berada di sini!.” (HR Muslim). Allah s.w.t. berfirman “…orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha luas ampunanNya. dan dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (al-Najm [53]:32). Pada bagian lain Allah s.w.t bertitah “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),  dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia menunaikan shalat.  Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.  Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la [87]:14-17).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

*

Jadwal Sholat


Jadwal Sholat Di Beberapa Kota