Manifestasi Keyakinan & Kepedulian Sosial

وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،

﴿ يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ا مَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ﴾

﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا ﴾

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا ﴾ أَمَّا بَعْدُ …

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و أصيلا لا إله إلا الله وحده صدق وعده و نصر عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب وحده لا إله إلا الله و لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين و لو كره الكافرون و لو كره المشركون و لو كره المنافقون لا إله إلا الله و الله أكبر ألله أكبر و لله الحمد.

الله أكبر عدد ماتحركت القلوب شوقا إلى البيت الحرام، وعدد مااهتـزّتْ مشاعرالحجيج لرؤية البيت العتيق؛ الله أكبر عدد ماحداهم الأملُ إلى مغفرة الذنوب، وستر العيوب؛ الله أكبرعدد ما تحركت قوافل الحجيج آمّةً البقاعَ المباركةَ؛ الله أكبر ماكبروا وأحرموا ولـبَّوا؛ الله أكبر ماطافوا بالبيت واستلمواالحجـر، وسعَوْا بين الصفا والمروة وشربوا من ما زمزم؛ الله أكبرعدد ما خرجوا إلى منى، ووقفـوا بعرفة، وباتوا بمزدلفة؛ الله أكبرعدد مارمَوا وحلقوا ونحروا، وكبروا وشكروا، ٍالله أكبر لله أكبر، لاإله إلا الله، والله أكبر الله أكبر، ولله الحمـد….فيا معاشر المسلمين أوصى نفسى و إياكم بتقوى الله فقد فاز المتقون

                                                                

 

الله أكبر الله أكبر، لاإله إلا الله، و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sidang shalat ‘Iedul Adha رحمكم الله…

Pagi ini kembali kita merasakan keagungan Allah SWT. Pagi ini kita kembali merasakan betapa besarnya kasih sayang Allah, betapa tak terhingga karuniaNya yang tercurahkan atas kita semua. Marilah kita satukan hati untuk memuji Allah atas segala limpahan nikmat dan karuniaNya kepada kita semua. Kita lantunkan takbîr, tahmîd dan tahlîl berbilang getaran hati umat beriman yang merindukan Masjidil Haram, irama kerinduan jutaan jamaah haji untuk menyaksikan Ka’bah al-Musyarrafah, berjuta harapan akan ampunan Allah SWT terhadap dosa-dosa kita, getaran kalbu beribu-ribu kafilah haji berbondong menuju bumi Allah yang diberkahi.

Hari ini  jutaan manusia, dari berbagai etnik, suku, dan bangsa di seluruh penjuru dunia, mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil, sebagai refleksi rasa syukur dan sikap kehambaan mereka kepada Allah SWT. Saat ini, di bumi Allah yang mulia Makkah al-Mukarramah, jam menunjukkan kurang lebih pukul 03.00 dini hari. Jutaan saudara-saudara kita seiman dan seIslam, dari berbagai bangsa, bahasa dan warna kulit sedang berbondong-bondong, dengan gema takbîr, tahmîd dan tahlîl menuju Mina, setelah sebelum nya mereka menunaikan tarwiyah di Mina, wukuf di Arafah serta mabit di Muzdalifah untuk menunaikan lemparan jumrah ‘aqabah/kubra, sebagai simbol dari tekad melawan setan dan kebathilan yang menggerogoti manusia sepanjang zaman

Mereka membentuk lautan manusia yang menjadi sebuah panorama menakjubkan yang menggambarkan eksistensi manusia di hadapan kebesaran Rabb Yang Maha Agung. Mereka serempak menyatakan kesediaannya untuk memenuhi panggilan-Nya, melantunkan talbiyah :

لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك لبيك، إن الحمد والنعمة لك والملك لا شر يك لك

Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah! Aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu ya Allah

الله أكبر الله أكبر، لاإله إلا الله، و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sidang shalat ‘Iedul Adha رحمكم الله…

Dalam lintasan sejarah kenabian yang dikisahkan oleh Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an, perintah berkurban telah dilaksanakan sejak zaman Nabi Adam ‘alaihissalâm. Saat itu kedua putranya Qâbil danHâbil berkurban dengan pengorbanannya masing-masing. Satu diantara keduanya diterima, yaitu Habil, dimana ia mengorbankan hasil peternakannya yang terpilih dan bagus serta dilakukan dengan penuh keikhlasan. Sebaliknya, kurban yang dilakukan oleh Qâbil tertolak dan tidak diterima, dimana ia mengorbankan hasil pertaniannya yang jelek dan disisihkannya karena tidak disukai, dan iapun melakukannya dengan keterpaksaan. Kisah ini terangkum dalam Al-Qur’an sebagai berikut :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آَدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآَخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

”Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil) : “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil : “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa.”( Surat Al-Maidah : 27 )

الله أكبر الله أكبر، لاإله إلا الله، و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sidang shalat ‘Iedul Adha رحمكم الله…

Ketulusan Habil dalam melaksanakan kurban dan kesabarannya berhadapan dengan saudaranya Qabil yang membunuhnya; serta keteguhan dan ketegaran Nabi Ibrahim dalam menmpuh berbagai ujian berat dalam hidupnya merupakan representasi dan symbol abadi manusia-manusia yang memiliki visi Rabbani yang jelas dalam hidupnya; pandangan hidup tauhidik yang mendedikasikan hidupnya untuk kemaslahatan manusia demi meraih keridlaan Allah swt.

Sementara Qabil, yang serakah, tersedot jauh oleh gravitasi dunia yang serba materi dan minus empati kemanusiaan, dengan sendirinya menjadi representasi dan symbol manusia yang beridiologi materialisme-sekuler. Pandangan hidup yang menakar kehidupan ini dengan nilai materi semata; jabatan dan kekuasaan yang pada akhirnya tidak memperoleh apa-apa kecuali kerugian dan kehinaan di muka bumi dan kesengsaraan di akherat. Dalam kehidupan keagamaan kita tipologi Qabil seperti ini disindir oleh para ulama dalam bait syair mereka :

نُرَقِّعُ دُنيانا بِتَمزيقِ دينِنا                  فَلا دينُنا يَبقى وَلا ما نُرَقِّعُ

Ya, kita tambal sulam dunia dengan merobek-robek agama; Agama kita lenyap dan duniapun tidak teraih !

الله أكبر الله أكبر، لاإله إلا الله، و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sidang shalat ‘Iedul Adha رحمكم الله…

Dalam lembaran-lembaran sejarah para Nabi agung, kita mengenal nama agung, Khalilullah Ibrahim‘alaihissalâm. Dalam surat Al-Nahl : 120-122 Allah memujinya sebagai berikut :

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ .  شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ .  وَآَتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الْآَخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

Allah menegaskan Ibrahim alaihissalam sebagai seorang pemimpin ideal yang dapat dijadikan sebagai tauladan untuk seluruh umat manusia secara universal. Sebuah kepemimpinan yang dapat mewujudkan kemakmuran di bumi dan keselamatan di akherat. Nabiyullah Ibrahim memiliki tiga kriteria utama :pertama,qanitan”; senantiasa taat dan tunduk kepada Allah swt. Tidak menyimpang dan membantah ajaran-ajaranNya. Tidak skeptik dan serba nisbi (relativisme). Kedua, “hanifan”; lurus dalam kebenaran dan tidak musyrik. Sikap hanafiyah ialah, kejujuran dan keterusterangan untuk hanya mengakui Allah swt sebagai satu-satunya Dzat yang berhak disembah serta Islam sebagai jalan dan pandangan hidup.Ketiga, Ibrahim ditegaskan sebagai seorang hamba yang pandai bersyukur kepada Allah swt. Kesyukuran Ibrahim alaihissalam diwujudkan dalam bentuk pengakuan yang tulus atas keagungan dan karunia Allah swt; memanfaatkan karunia dan nikmat Allah sesuai tuntunanNya, tidak korup dan hanya mementingkan kelompoknya, serta jauh dari permusuhan sesama.

الله أكبر الله أكبر، لاإله إلا الله، و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sidang shalat ‘Iedul Adha رحمكم الله…

Seorang pemimpin yang tangguh terlahir dari proses ujian yang berat. Ibrahim ‘alaihissalam setidaknya melalui empat ujian dalam hidupnya : pertama, berkorban dengan dirinya sendiri ketika harus berhadapan dengan ayah kandungnya dan kaumnya bahkan sampai dibakar hidup-hidup  (Al-Anbiya’:51-69). Dalam hal ini kita belajar tentang sikap pasrah beliau. Sikap pasrah dan menyerahkan diri secara total kepada Allah SWT  diaktualisasikan pula oleh Ibrahim ‘alahissalâm dalam bentuk keteguhan Beliau menjalankan prinsip “Al-Walâ’ Wa al-Barâ’, yakni sebuah prinsip memberikan loyalitas dan kesetiaan hanya kepada Allah serta Rasulnya dan orang-orang Mu’min serta menyatakan berlepas diri dari orang-orang kafir.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja… ( Surat Al-Mumtahanah : 4 )

Kedua, berkorban dengan keluarga ketika harus meninggalkan anak dan isterinya di tanah yang sangat tandus tidak berpohon, Makkah. Al-Imam Bukhari meriwayatkan bahwa, ketika Ibrahim ‘alaihissalâm berpaling untuk berangkat kembali meninggalkan mereka berdua, Hajar mengikutinya dan berkata : “Wahai Ibrahim kemana lagi Engkau akan pergi ?.Akankah Engkau akan tinggalkan kami ditempat yang tiada berpenghuni ini ?. Berulang kali Hajar menyerukan, namun Ibrahim ‘alaihissalâm sedikitpun tiada menoleh. Lalu Ia pun bertanya,”Apakah ini perintah Allah ?. Ibrahim ‘alaihis salâm menjawab :”Benar !”. Kemudian Hajar dengan penuh tawakkal kepada Allah SWT berkata,” Kalau begitu, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami.” Lalu, Ibrahimpun berlalu meninggalkan mereka, dan dikala Beliau telah sampai ke suatu tempat, dimana Beliau tidak terlihat lagi oleh keluarganya, beliaupun kembali berpaling sambil mengangkat kedua tangannya berdo’a;

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahMu, Baitullah yang dihormati.Ya Tuhan kami, yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rizki berupa buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” ( Surat Ibrahim : 37 ).

Ketiga, berkorban dengan menunaikan perintah Allah untuk menyembelih anaknya Ismail alaihissalam.  Dalam surat Ash-Shaffat ayat 102 :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

”Maka tatkala anak itu sampai pada usia dimana ia sanggup untuk berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata : Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu !, Ia menjawab : Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Al-Imam Ibnu Jarir Al-Thabarî dalam Tafsirnya meriwayatkan ungkapan kasih seorang anak kepada seorang ayah yang teramat dicintainya menjelang ia disembelih. ”Wahai ayahku tercinta,sungguh maut itu sangat menyakitkan, jika engkau hendak menyembelihku, maka kuatkanlah ikatan tali di badanku sehingga aku tidak mengamuk lalu menyakitimu, karena yang demikian itu dapat mengurangi pahalaku. Dan tajamkanlah ujung pedangmu sehingga Engkau betul-betul dapat menyembelihku dengan baik, dengan demikian akupun akan leluasa. Dan jika engkau membaringkanku di tempat penyembelihan balikkanlah wajahku menghadap ke tanah, dan janganlah engkau memandang wajahku, karena aku khawatir engkau akan merasa kasihan kepadaku sehingga dapat menghalangimu berbuat taat kepada Allah, Dan jika engkau menginginkan bekas bajuku yang bersimbah darah untuk diperlihatkan kepada Ibuku agar Ia dapat berbahagia denganku, aku persilahkan engkau wahai Ayahku.” Ibrahim ‘alaihissalammenjawab, “Betapa engkau buah hati yang teramat menggembirakanku didalam melaksanakan perintah Allah wahai anakku.”

Keempat, berkorban dengan harta dan tenaga ketika diperintah Allah untuk membangun masjidil harom(“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud” [al-Baqarah:125] )”.

Kejayaan dan kemenangan Ibrahim ‘alaihissalam dalam pengorbanan agung tersebut takkan diraih kecuali dengan kesadaran spiritual dan keimanan yang kokoh. Keimanan yang kokoh tak lain dari keyakinan Ibrahim terhadap kebenaran yang diperjuangkannya. Karena itulah, keyakinan akan kebenaran inilah yang akan menjadi energi quantum yang mendorong kita untuk mewujudkan cita-cita tertinggi yaitu keridlaan Allah swt. Di sinilah kita memahami mengapa Rasulullah saw bermunjat kepada Allah ;

وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ به عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا

Ya Allah anugerahkan kami keyakinan yang dengannya Engkau permudah bagi kami kesulitan-kesuliatan dunia yang kami hadapi…

Keyakinan seperti ini wajib kita miliki dan dimiliki oleh setiap pemimpin muslim. Seorang penyair legendaris besar, Dr Mohammad Iqbal menyatakan bahwa hilangnya keyakinan dari diri seorang manusia adalah lebih buruk daripada perbudakan. Berbagai permasalahan dan kerancauan mendasar masyarakat sekuler Barat dalam agama, sejarah, ideologi, keagamaan, fakta sosial, politik budaya dan ekonomi mereka, kini banyak ditiru dan digugu oleh sebagian umat Islam, yang pada akhirnya akan terus mengikis dan menggerus keyakinan mereka terhadap kebenaran hakiki yang telah diajarkan oleh Islam. Tampillah generasi yang mengaku sebagai seorang muslim namun malu bahkan anti dengan ajaran-ajaran Islam itu sendiri. Dan pada saat yang sama, ia merasa sudah modern dan maju hanya karena bisa tampil dengan pola hidup dan cara berfikir, bersikap dan bertindak yang serba bebas dan liberal. Sungguh benar sabda Rasulullah SAW :

لتتبعن سنن من كان قبلكم شبرا بشبر و ذراعا بذراع  حتى لو دخلوا حجر ضب لدخلتموه

“Sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan dan trend orang-orang sebelum kalian. Sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga bila mereka masuk ke lubang biawak niscaya kalianpun akan mengikutinya. ( Bukhari Muslim ).

الله أكبر الله أكبر، لاإله إلا الله، و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sidang shalat ‘Iedul Adha رحمكم الله…

Kiranya, prinsip keyakinan/keteguhan iman inilah yang sulit kita pertahankan dengan istiqamah, karena memang tantangan akhir zaman, yang dikenal sebagai zaman modern dan revolusi teknologi tinggi semakin menghadirkan aneka godaan dan tipu daya yang beragam. Keyakinan kita semakin menipis berjalan seiring dengan lemahnya perhatian sebagian umat kita terhadap ajaran-ajaran Islam. Hal yang sedemikian inilah yang menyebabkan kita kehilangan identitas dan jati diri.

Loyalitas kita kepada orang-orang kafir dan musuh-musuh Allah terwujudkan dalam bentuk ketidakberdayaan kita didalam menolak trend dan mode yang menyimpang dari aturan agama. Kita terlena dengan propaganda dan provokasi disekitar kita. Inilah yang dimanfaatkan oleh musuh-musuh Allah untuk memperdaya kita, ataupun memperdaya anak-anak kita dan generasi kita, sehingga secara sangat halus ajaran-ajaran agama akan hilang dari prilaku keseharian kita, sadar ataupun tidak.

Berbagai perilaku menyimpang terjadi di mana-mana. Dari mulai kejahatan politik sampai kejahatan moral. Dunia pendidikan nasional kita berorientasi materialistik. Pendidikan agama hanya sebagai aksesoris pelengkap. Lembaga pendidikan nyaris kehilangan relasi harmonis dengan kehidupan masyarakat yang mengitarinya. Ekonomi kita bersifat liberal-kapitalistik yang semakin mengokohkan monopoli, oligopoli dan konglomerasi. Semua itu teramat jauh dari nilai-niali keadilan dan kemanusiaan.

Hilangnya keyakinan menjadikan dunia politik seringkali bersifat oportunistik. Kekayaan dan jabatan menjadi orientasi utama dengan mengabaikan tatanan etika dan moral. Dunia hukum menjadi tajam taringnya ketika hendak menjerat rakyat kecil yang tiada berdaya serta tokoh agama Islam yang difitnah sebagai inspirator berbagai tindak terorisme dan anarkhisme. Ulama disiksa dan dipenjara, para koruptor disikapi sebagai pahlawan bangsa. Hilangnya keyakinan berakibat pada budaya dan kultur kita menjadi permisif dan hedonis. Berzina dianggap sebagai salah satu ciri gaya hidup modern dan menutupi aibnya dengan dalih sebagai ’tuntutan zaman’. Kemudian pandangan ini dipopulerkan di tengah masyarakat, sehingga terjadi perubahan-perubahan norma sosial.

Bahkan yang lebih menyedihkan, model keberagamaan dan kesalehan yang ditampilkan oleh sebagian umat cenderung bersifat budaya pop, yang kerapkali keluar dari frame otentisitas ajaran dan doktrin Islam itu sendiri. Akibatnya masyarakat merasa kesulitan untuk memilah dan membedakan mana perbuatan yang baik yang dapat membawa keamanan dan kebahagiaan hidup, dan mana perbuatan buruk yang dapat membawa kesengsaraan pada kehidupan.

 

الله أكبر الله أكبر، لاإله إلا الله، و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sidang shalat ‘Iedul Adha رحمكم الله…

Dalam hubungan kaum pria dan wanita sebagian di antara kita nyaris kehilangan keyakinan dan keteguhan iman. Sebagian memperlakukan kaum wanita sebagai makhluq kelas dua; lemah dan difungsikan hanya sebagai pelayan kaum pria. Pandangan ini adalah warisan dari tradisi jahiliah pra Islam dan kegelapan peradaban Barat. Untuk memperbaiki pandangan tersebut, muncul gerakan feminisme radikal yang mendudukkan kaum wanita setara secara total dalam segala hal. Allah mengajar kita untuk mendudukan kaum pria dan wanita secara serasi dan proporsional sesuai dengan kodrat masing-masing yang tak mungkin dapat diingkari. Secara prinsip dan ontologis kemanusiaan Islam samasekali tidak membedakan kedua jenis ini; kemuliaannya hanya diukur dari amal sholeh dan ketakwaan masing-masing.

Ketika, secara fungsional, seorang wanita ditakdirkan untuk mengandung, melahirkan dan menyusui, maka hendaklah kita semua menyadari bahwa ini adalah tugas dan kewajiban mulia yang besar dan tidak ringan. Semuanya harus ditunaikan dengan persiapan fisik, jiwa dan pikiran mendalam. Karenanya, amatlah rasional jika kemudian mereka tidak dibebani untuk mencari nafkah dan menyerahkan sepenuhnya sebagai kewajiban kaum pria. Namun patut disayangkan bahwa hubungan dan relasi yang sedemikian adil dan serasi dipandang sebagai sikap diskriminasi terhadap kaum Hawa. Para wanita menyangka bahwa peran yang dianggap mulia dan berharga adalah peran yang memungkinkan mereka mendapatkan penghargaan material beripa keuntungan finansial semata ataupu kehormatan semu di hadapan manusia. Sebagian wanita kita tidak sadar sudah menggadaikan keyakinan dan keteguhan imannya dengan agama semu bernama materialisme-sekuler. Mereka menakar kemuliaan dirinya hanya dengan kedudukan dan nominal uang tertentu. Pekerjaan dan kewajiban sebagai “Ibu” rumah tangga yang teramat mulia tak dianggap apa-apa hanya karena tidak memperoleh upah material. Di sinilah kita perlu belajar lebih banyak dari keteguhan dan tanggungjawab seorang Ibrahim, kesetiaan Hajar dan kepatuhan Ismail dalam sebuah mahligai rumah tangga yang penuh barokah dan keteladanan.

الله أكبر الله أكبر، لاإله إلا الله، و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sidang shalat ‘Iedul Adha رحمكم الله…

Renungkanlah dengan hati yang jernih dan suci perjalanan rumah tangga kenabian yang dilalui oleh Al-Khalil Ibrahim ‘alaihissalam. Kepedulian teologis, sistem keyakinan tauhidik menjiwai nafas kehidupannya. Dengan ketulusan yang mutlak kepada Allah semata, Ibrahim telah menunjukkan kepada kita bagaimana “membunuh” sifat-sifat kebinatangan yang seringkali melahirkan sikap pembangkangan kita terhadap sang Khaliq, Allah Rabb  al-lâlamin.

Sesungguhnya apa yang dipancangkan oleh Nabi Ibrahim itu adalah sebuah momentum sejarah yang menentukan perjalanan hidup manusia sampai sekarang ini. Ia menghendaki sebuah masyarakat ideal yang bersih; yang merupakan refleksi otentik interaksinya dengan sistem kepercayaan, nilai-nilai luhur, dan tata aturan (syariat) yang telah menjadi dasar kehidupan bersama. Sebab keidealan dan kebersihan sebuah masyarakat hanya mungkin terjadi jika terdapat kesesuaian antara realitas aktual dengan keyakinan (aqidah), nilai-nilai luhur (akhlaq), dan tata aturan (syariat) yang diyakini.

Sistem kepercayaan, nilai-nilai, dan tata kehidupan yang telah dipancangkan oleh Nabi Ibrahim itulah yang terbukti melahirkan cita-cita ketenteraman dan kemakmuran hidup manusia. Itulah agama Nabi Ibrahim, agama Islam yang tulus dan jelas. Tidak ada yang membencinya kecuali orang yang menzhalimi, memperbodoh, dan merendahkan diri sendiri.

Demikianlah profil mulia seorang hamba Allah yang telah diabadikan oleh Al-Qur’an.

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ . سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ . كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ . إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

“Kami abadikan untuk Ibrahim itu pujian yang baik dikalangan umat yang datang kemudian, (yaitu) kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba kami yang beriman.” ( Ash-Shaaffaat : 108-111)

الله أكبر الله أكبر، لاإله إلا الله، و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sidang shalat ‘Iedul Adha رحمكم الله…

Ibrahim adalah suri tauladan abadi. Ketundukannya kepada sistem kepercayaan, nilai-nilai dan tata aturan ilahiah selalu menjadi contoh yang hidup sepanjang masa.Teladan pengorbanan yang dilakukan oleh Ibrahim ‘alaihissalâm, putranya Ismail ‘alaihissalam serta isterinya Hajar, secara simbolik diabadikan dalam syariat Agama kita melalui tuntunan penyembelihan hewan kurban, seperti yang di riwayatkan olehSayyidatuna A’isyah RA :

“Tidak ada amal bani Adam yang lebih disukai oleh Allah pada hari raya kurban selain menupahkan darah (menyembelih hewan kurban). Sungguh pada hari kiamat nanti, hewan qurban tersebut akan datang lengkap dengan tanduknya, tulang-tulangnya, dan bulu-bulunya. Dan sungguh darahnya akan sampai kepada Allah mendahului sampainya darah ke bumi. Maka perbaguslah penyembelihan itu (HR ibnu Majah)

 

Allah menyatakan dalam surat Al-kautsar ayat 1-2 :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan sembelihlah hewan kurban”

 

Ayat tersebut secara eksplisit menegaskan tidak adanya dikotomi antara kesalehan vertical dan kesalehan horizontal. Tidak pula pemisahan antara kesalehan yang esensial dan kesalehan yang formalistic. Keduanya harus berjalan seimbang dalam kehidupan kita. Bahkan memisahkan keduanya dikecam oleh Allah SWT sebagai “pendustaan agama.”

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7)

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (Al-Ma’un : 1-3)

 

Dari sahabat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :

من كان له سعة ولم يضحِّ فلا يقـــرَبـنَّ مصلانا (رواه أحمد)

“Barang siapa yang memiliki kelapangan harta dan tidak menyembelih hewan qurban, maka janganlah sekali-kali ia mendekati tempat shalat kami.”

 

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah melarang para sahabat untuk memakan (menyimpan) daging kurban lebih dari tiga hari. Namun hal ini kemudian diterangkan dalam hadis yang dishahihkan oleh Imam Al-Albani bahwa, hal yang sedemikian untuk memberi kelapangan kepada umat (yang saat itu dalam kesulitan). Hadis ini mengisyaratkan keharusan atas kita semua untuk segera mendistribusikan daging kurban kepada dan larangan untuk menyimpannya lebih dari tiga hari jika masyarakat dalam keadaan sulit.

الله أكبر الله أكبر، لاإله إلا الله، و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Sidang shalat ‘Iedul Adha رحمكم الله…

Dari apa yang khatib uraikan tadi, tampak jelas bahwa ‘Iedul Adlha yang kita rayakan saat ini memiliki dua dimensi sekaligus; keteguhan iman dan kepedulian sosial. Keduanya harus berjalan seimbang dan serasi. Menyemarakkan satu sisi dengan mengabaikan yang lainnya justeru akan mencedarai makna dari ‘îd al-qurban itu sendiri, karena jelas pemberdayaan umat, disamping pada dimensi sosial, tapi juga pemberdayaan pada dimensi teologis atau keimanan.

Akhirnya marilah kita akhiri ‘Iedul Adha ini, kita tutup lembaran kehidupan kita di tahun 1433 H seraya membuka lembaran kehidupan yang baru pada tahun 1434 H dengan merendahkan diri hadapan Allah SWT, meminta dan memohon kepadaNya karena tidak ada yang dapat menjawab dan mengabulkan permohonan kita selain dariNya.

إن الله و ملئكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه و سلموا تسليما، اللهم صـل وسلم على رسولك و عبدك محمد صاحب الحوض و المقام المخلود و ارض اللهم عن خلفائه الراشدين و صاحبته أجمعين.

 أَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسلِمِينَ والمُسْلِمَاتِ، والمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ، الاَحيَاءِ مِنهُمْ والاَمْواتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْب الدَّعَوَات، فَيَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ. اللهم اجعل حجهم  حجامبرورا وسعيهم سعيا مشكورا وذنبهم وذنبامغفورا و عملهم عملاصالحامقبولا وتجارتهم تجارة لن تبور.

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ به عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا ، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بأسْمَاعِنا ، وَأَبْصَارِنَا ، وقُوَّتِنَا مَا أحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الوارثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلاَ تَجْعَلْ مُصيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

 اللهم أعز الإســـــــلام و المسلمين و أذل الشرك و المشـــــركين و دمر أعـــدائك أعداء الدين من الكفرة و المشركين و اجعل اللهم هذا البلد آمنا مطمئنا و سائر بلاد المسلمين. اللهم طهر قلوبنا من النفاق و أعمالنا من الرياء و ألسنتنا من الكذب و أعيننا من الخيانة إنك تعلم خائنة الأعين و ما تخفى الصدور.

 ربنا هب لنا من أزواجنا و ذرياتنا قرة أعين و اجعلنا للمتقين إماما. رب اجعلنا مقيمى الصلاة ومن ذرياتنا ربنا وتقبل دعاء. اللهم اجعل لنا من كل هم فرجا و من كل ضيق مخرجا و من كل بلاء عافية يا رب العالمين. اللهم أصلح لنادينناالذى هو عصمة أمرنا وأصلح لنا دنيانا التى فيها معاشنا وأصلح لنا آخرتنا التى إليها معادنا واجعل الحياة زيادة لنا فى كل خير واجعل المت راحة لنا من كل شر.

اللهم اجعل خير أعمارنا آخرها وخير أعمالنا خواتمها وخير أيامنا يوم نلقاك فيه. اللهم إننا آمنا بما أنزلت واتبعنا الرسول فاكتبنامع الشاهدين. اللهم إنانسألك الجنة ونعوذبك من النار

 اللهم وفق ولاة أمور المسلمين للعمل بكتابك و تحكيم سنة نبيك محمد، اللهم وفـــــــــق إمامنا لما تحبه و ترضاه و خذ بناصيته بالبر و التقوى، اللهم وفقه فى هداك و اجعل عمله فى رضاك يا رب العالمين، اللهم اغفر لنا و لإخواننا الذين سبقونا بالإيمان و لا تجعل فى قلوبنا غلا للذين آمنوا إنك أنت الرؤوف الرحيم،  ربنا آتنا فى الدنيا حسنة و فى الآخرة حسنــة و قنا عذاب النار.

و صلى الله على سيدنا محمد و آله و صحبه و سلم سبحان ربك رب العزة عما يصــــفون وسلام على المرسلين و الحمد لله رب العالمين. الله أكبر الله أكبر الله أكبر

Lapangan Mancasan Wirobrajan

 Daerah Istimewa Yogyakarta

Jum’at, 10 Dzulhijjah 1433 H / 26 Oktober 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

*

Jadwal Sholat


Jadwal Sholat Di Beberapa Kota