Rapuhnya Rumah Peradaban Kita

 

RAPUHNYA RUMAH PERADABAN KITA,
Terima kasih Laba-laba…
Kau sudi berbagi ilmu…

Sahabat mulia…
Di hari berlipat barakah ini, in syaa Allah… dengan tulus kusampaikan terima kasihku kepada seekor binatang, laba-laba. “Syukran ayyatuha-l-‘ankabut”.

Ya, laba-laba …!
Bersebab pelajaran penting darinya untuk memberi warna dan makna bagi kehidupanku, pun pula sahabat-sahabat mulia, dan kita semua.

Laba-laba, atau disebut juga labah-labah, kata para ahli, adalah sejenis hewan berbuku-buku (arthropoda) dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tak bersayap dan tak memiliki mulut pengunyah. Ia juga dikategorikan sebagai hewan pemangsa (karnivora), bahkan kadang-kadang kanibal. Sahabat kehidupan ini mampu menghasilkan benang sutera –yakni helaian serat protein yang tipis namun kuat– dari kelenjar (disebut spinneret) yang terletak di bagian belakang tubuhnya.

Jangan pernah tanya kekuatan benang dan jaring rumah Laba-laba ini. Kata HarunYahya, benang yang digunakan Laba-laba sama ajaibnya dengan jaring itu sendiri. Benang laba-laba lima kali lebih kuat dari serat baja dengan ketebalan yang sama. Ia memiliki gaya tegang seratus lima puluh ribu kilogram per meter persegi. Jika seutas tali berdiameter tiga puluh sentimeter terbuat dari benang laba-laba, maka ia akan mampu menahan berat seratus lima puluh mobil.
Ilmuwan menggunakan benang laba-laba sebagai model ketika membuat bahan yang dinamakan Kevlar, yakni bahan pembuatan jaket anti peluru. Peluru berkecepatan seratus lima puluh meter per detik dapat merobek sebagian besar benda yang dikenainya, kecuali barang yang terbuat dari Kevlar. Tetapi, benang laba-laba sepuluh kali lebih kuat daripada kevlar. Benang ini juga lebih tipis dari rambut manusia, lebih ringan dari kapas, tapi lebih kuat dari baja, dan ia diakui sebagai bahan terkuat di dunia.

Masalahnya, mengapa Al-Qur’an menyebut rumah Laba-laba sebagai “rumah terlemah”?.

وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS Al-‘Ankabut/29:41)

Sahabat mulia…
Coba perhatikan seksama ! Allah melekatkan sifat “lemah” atau “rapuh” pada “rumah” Laba-laba, bukan pada benang sutera teramat kuat yang menjadi bahan dasar konstruksinya.
Ayat terbaca di atas memvisualisasi rapuh dan lemahnya dimensi spiritual, moral ataupun rekatan sosial pada “rumah Laba-laba” : para penghuninya, bukan bahan dasar konstruksi dan bangunannya!
Sebuah rumah yang hanya ditempati oleh sekumpulan bangkai yang saling memangsa dalam hidupnya!. Seekor Laba-laba betina membunuh “pasangannya” dan mencampakkannya ke luar rumah, setelah ia berhasil melahirkan keturunannya. Pun pula di kemudian hari, anak-anak Laba-laba tersebut membunuh induk betinanya, lalu mencampakkannya seperti yang pertama!. Subhanallaah !.

Sebuah rumah yang kehilangan fungsi spiritual dan sosialnya. Tak ada pelukan hangat bagi anak-anak dari ibunya. Tak pula seorang ayah yang melindungi anak-anaknya. Apatah lagi seorang ibu yang “berhati ibu”. Tak pula kehangatan persaudaraan dalam suka dan duka.

Sebuah rumah yang tak melindungi penghuninya; tidak dari sengatan matahari, tidak dari kedinginan malam. Tidak dari hembusan angin bertiup kencang. Tidak pula dari rintik hujan. Tiada melindungi aurat dari dalam. Dari luar pun tiada menahan serangan si zalim!

Sahabat mulia…
Bersebab pentingnyta pesan, dalamnya makna, serta luasnya dimensi serta cakupannya, Allah Ta’ala abadikan namanya untuk sebuah surah, “Al-‘Ankabut”. Surah mulia ini banyak sekali bertutur kepada kita tentang fitnah dalam kehidupan ini, diawali dengan pertanyaan menggugah jiwa :

الم. أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-‘Ankabut/29:1-3)

Sahabat mulia…
Apa relasi antara “jaring Laba-laba” (al-‘ankabut) dengan “fitnah” yang mendera dalam hidup ini ?

Yakinlah, fitnah itu semakin hari semakin dahsyat. Ia menerpa lebih cepat dari apa yang kita imajinasikan. Tak ada ruang kosong dalam hidup ini kecuali disusupi oleh fitnah ini, bahkan di ruang yang sangat terdalam dalam kehidupan pribadi seseorang. Ia datang dari segala penjuru; terstuktur rapi, saling terkait dan bersenyawa, sistematis, persis seperti jaring seekor Laba-laba!. Rumit, kompleks, dan tak mudah dihindari.

Sahabat mulia…
Dalam suasana fitnah yang sarat kegamangan bersikap bagi tidak sedikit orang, sebagai manusia beriman hendaklah selalu memperbaharui struktur keimanan kita, juga merawat jiwa yang padanya iman itu bersemayam. Pertautkan tiga serasi; kebeningan qolbu, kesehatan akal dan produktifitas jasmani yang tak lelah menebar segala kebaikan dan manfaat bagi semesta!

Tunaikan ajaran junjungan kita, Rasulullah ‘alaihissalam :

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan segala kebaikan sebelum datang kepada kalian fitnah yang teramat samar bagai bagian malam yang gelap gulita. Seseorang menjalani hidupnya di pagi hari dalam keadaan beriman, lalu sorenya ia menjadi kafir. Atau menjalani hidupnya di waktu sore dalam keadaan beriman, lalu di waktu pagi ia menjadi kafir. Ia jual amanya dengan sedikit saja keuntungan dunia.” (HR Muslim)

Sahabat mulia,
Hari ini…
Meski sebiji dzarrah
Kebaikan itu bermakna
Diterima Allah Ta’ala,

B e s o k…
Di Akherat
Meski emas perak
Berberat bumi seisinya
Jabatan kedudukan terhormat
Keturunan bermartabat
Takkan diterimaNya
Sebagai tebusan

Adakah diri ini berdalih
Menunaikan kebaikan-kebaikan
Meski bertara biji dzarrah ?
Robb,
Mampukan kami…

Masjid Gedhe Kauman, 8 Shafar 1440 H / 17 Oktober 2018
Sahabatmu,
Fathurrahman Kamal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jadwal Sholat


Jadwal Sholat Di Beberapa Kota