Tiga Langkah Wujudkan Keluarga Harmonis Ala Islam

Rabu 09 Jan 2019 04:56 WIB

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah

Tujuan berkeluarga adalah mewujudkan sakinah, mawaddah, rahmah, dan amanah.

REPUBLIKA.CO.ID, Allah SWT menciptakan manusia dalam keadaan berpasangan, laki-laki dan perempuan. Ikatan pernikahan merupakan jalan yang diridhai-Nya untuk menghalalkan hubungan antara kedua insan tersebut.

Menurut Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Ustaz Fathurrahman Kamal, pada zaman sekarang ada banyak tantangan untuk mewujudkan rumah tangga yang islami. 

Nilai-nilai agama dan kearifan lokal, yang dahulu teguh dan dipertahankan, kini menjadi luntur, bahkan menjurus sekuler. Sebagai contoh, ambisi karier yang sedemikian tak terkendali menyebabkan jarak komunikasi antaranggota keluarga.

“Lembaga pernikahan atau keluarga yang sedemikian rupa dijunjung martabatnya, kini seolah kehilangan makna. Keluarga dan rumah tak lagi menjadi surga bagi penghuninya, bahkan, na’ûdzu billâh, semoga kita terhindar darinya, berubah menjadi sumber malapetaka,” ujar Ustaz Fathurrahman Kamal kepada Republika.co.id, Selasa (8/1).

Sebagai bagian dari umat Islam, setiap orang perlu menghayati makna pernikahan sebagai ibadah. Ustaz Fathurrahman mengungkapkan, pernikahan merupakan perjanjian yang teramat berat (mitsaqan ghalizhan), setara dengan sumpah lima nabi pilihan (ulul azmi) dalam menunaikan amanah tauhid.

Dalam surah an-Nisa ayat ke-21, Allah SWT berfirman yang artinya, “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (miitsaaqan ghaliizhaan).” 

Rasulullah SAW juga mengingatkan, “Ketahuilah! Kalian mengambil perempuan itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik” (HR al-Baihaqi).

Berikut ini tiga  langkah yang dapat ditempuh untuk menjadikan rumah tangga yang selaras dengan Islam.

Pertama, ikhlaskan niat dan bulatkan tekad. Alumnus Universitas Madinah (Arab Saudi) tersebut mengingatkan, suatu pernikahan yang islami berkaitan dengan upaya menyempurnakan agama. 

Nabi SAW bersabda, “Jika seorang hamba telah menikah, sungguh sempurnalah setengah agamanya, hendaklah dia bertakwa kepada Allah pada sebagian lainnya.” (HR Baihaqi).

“Sekali lagi, ikhlaskan niat, luruskan orientasi dan tujuan menikah semata-mata untuk beribadah, memurnikan penghambaan diri kepada Allah SWT, memuliakan sunnah Rasul-Nya, dan menyempurnakan agama,” tutur dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu.

Kedua, fokus pada empat pilar keluarga berkah, yakni terpenuhinya sakinah, mawaddah, rahmah, dan amanah. Ibarat suatu rumah, keempat hal tersebut menopang keberlangsungan rumah tangga yang islami.

Sakinah bermakna ketenangan dan kenyamanan spiritual yang terpateri kuat dalam hati. Dengannya, pasangan satu sama lain dapat memberikan ketegaran hidup dan rasa aman dari segala kekhawatiran dan ketakutan. Sakinah akan menyuburkan semaian keimanan, kokohnya keyakinan, dan ketegaran hidup sebagai suami dan istri.

Mawaddah, artinya kelapangan dada atau kekosongan jiwa dari kehendak-kehendak buruk. Cinta yang diiringi dengan mawaddah tidak mudah pudar karena hati begitu lapang dan hampa dari keburukan. Hati yang demikian terbungkus rapi, bak mutiara yang tak mudah dihinggapi keburukan, lahir maupun batin yang mungkin datang dari pasangan kita.

Rahmah adalah kondisi psikologis yang muncul dalam hati karena menyaksikan kelemahan dan ketidakberdayaan. Dalam hal ini, seorang suami atau istri terdorong secara tulus untuk berempati, sehingga mendatangkan kebaikan bagi pasangannya. Dengan melatih jiwa rahmah, maka itu memunculkan kesabaran, sikap murah hati dan mudah memaafkan.

“Tentu, dalam kehidupan suami istri, tak ada manusia yang sempurna. Dalam ketidaksempurnaan kita, ataupun kelemahan pasangan kita, sikap rahmah ini menjadi penawar. Bukankah Nabi SAW mengajarkan kita, ‘Janganlah seorang suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Jika ia tidak menyukai suatu perangainya, ia akan menyukai perangai yang lain dari pasangannya itu.’” Ujar Ustaz Fathurrahman.

Adapun amanah memiliki akar kata yang sama dengan aman. Maknanya, ‘tenteram’. Kata tersebut juga sama dengan iman, yang berarti ‘percaya.’ Amanah adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain dengan disertai rasa aman dari pemberinya.

Sebab, ada kepercayaannya bahwa apa yang diamanatkan itu akan dipelihara dengan baik, aman keberadaannya di tangan pihak yang diberi amanat.

“Istri adalah amanah di pelukan sang suami, dan suami pun amanah di pelukan sang istri. Ikatan suci pernikahan merupakan amanah Allah yang teramat berat dalam dekapan suami-isteri,” kata pengasuh Pondok Pesantren Budi Mulia (PPBM) Yogyakarta itu menyimpulkan.

Langkah ketiga dari uraiannya adalah menjadikan keluarga sebagai kiblat. Di dalamnya, suami dan istri menyemaikan dan mengabadikan nilai-nilai Ilahiyah serta melestarikan fitrah kemanusiaan yang autentik.

“Ibarat mendirikan shalat, menghadaplah ke kiblat. Jika tidak begitu, shalat pun tidak sah. Demikian pula dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari. Apa pun yang suami atau istri lakukan, di manapun, dan kapan pun, jadikanlah keluarga dan rumah tangga sebagai titik sentral navigasi kehidupan, sebagai kompas yang memandu di tengah samudera luas tak bertepi kehidupan,” ujarnya.

Di samping itu, tentu saja suami dan istri hendaknya menjalankan kewajiban masing-masing, serta menerima haknya.

Di antara kewajiban suami adalah menjadi pemimpin bagi keluarga, menjaga agama istri dan keluarga, memuliakan, menggauli, dan mendidik istri secara baik, menafkahi istri dan keluarga sesuai dengan kemampuan, serta menjaga sikap cemburu sekaligus kepedulian (ghayyur) terhadap istri dan keluarga.

“Lawan dari sikap ghayyur adalah dayyuts, sebagaimana peringatan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Abu Dawud, ‘Tidak akan masuk surga seorang suami yang dayyuts (tidak memiliki kepedulian dan rasa cemburu terhadap kemunkaran dan maksiat),” sebut Ustaz Fathurrahman.

Adapun di antara kewajiban istri, yakni menjadi makmum yang baik bagi suaminya, taat di dalam kebaikan, menjaga kehormatan diri dan kemuliaan anak-anaknya, amanah dalam mengurus harta suami, dan tidak memperkenankan seseorang masuk ke dalam rumah atau menerima tamu kecuali atas izin suami.

“Namun jika ia (istri) mengetahui bahwa suaminya ridha dengan kedatangan tamu tersebut, tentu tidak apa-apa, dengan catatan bahwa tamu tersebut termasuk orang yang secara hukum syariat boleh menemuinya (mahram),” jelasnya.

Dalam Islam, kaum perempuan dilindungi hak-haknya. Perceraian memang dibolehkan selama ditopang dengan alasan yang kuat dan selaras dengan hukum syariat. Bagaimanapun, hal itu sesungguhnya tidak disukai Allah SWT.

“Termasuk bagian menjaga kehormatan diri ialah berupaya menjaga keutuhan rumah tangga dan tidak menuntut cerai dengan alasan yang mengada-ada, tidak realistis, serta tidak dibenarkan oleh syariat. Nabi SAW menegaskan, ‘Seorang perempuan yang minta diceraikan (talak) kepada suaminya, padahal tidak ada masalah yang memberatkannya, maka dia tidak akan dapat mencium wanginya surga.’ Demikian hadis riwayat Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu majah.”

Sumber : https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/19/01/09/pl18xx320-tiga-langkah-wujudkan-keluarga-harmonis-ala-islam-part1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jadwal Sholat


Jadwal Sholat Di Beberapa Kota