Trilogi Keteladan Imam Nawawi

Nama, Kelahiran dan Julukannya

Nama lengkapnya Yahya Bin Syaraf bin Murry bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam al-Nawawi al-Dimasyqi, Abu Zakariya, al-Imam al-Hafizh al-Mu’arrikh al-Faqih. Terkenal dengan sebutan “Al-Imam al-Nawawi”, dinisbatkan kepadaNawa tanah kelahirannya. Nawa merupakan pusat Kota Golan, bagian dari distrik Hauran di Damaskus, Ibukota Suriah saat ini. Imam Nawawi dilahirkan pada pertengahan bulan Muharram 631 H.[1]

Meskipun tidak memiliki seorang anakpun -karena memang tidak menikah sampai akhir hayatnya-, iamasyhur dengan sebutan Abu Zakariya. Tradisi masyarakat Arab menjuluki nama “Yahya” dengan “Abu Zakariya” merujuk kepada Nabi Yahya  ‘alaihissalam dan ayahandanya, Nabi Zakariya alaihissalam.Seperti halnya seorang yang bernama Ibrahim disebut sebagai “Abu Ishaq” atau Yusuf dijuluki “Abu Ya’qub”. Contoh lainnya, seorang yang bernama “Umar” dijuluki “Abu Hafsh”. Kuniah (julukan) seperti ini menyelisihi kiasan atau kaidah bahasa yang semestinya, di mana anak dinisbatkan kepada orang tuanya.

Selain itu, Imam Nawawi dikenal pula dengan gelar “Muhyiddîn” (orang yang menghidupkan agama) meskipun ia tidak begitu berkenan dengan sebutan ini. “Aku tidak memaafkan orang yang menggelariku dengan ‘Muhyiddin”, tegasnya. Dengan segala perjuangan dan pencapaian dalam masa hidupnya; baik berupa sunnah yang dihidupkan maupun bid’ah yang dilenyapkan serta amar ma’ruf-nahi munkar yang ditegakkan, sesungguhnya gelar ini sangat pantas disandangnya. Imam Nawawi sangat berhat-hati agar tidak terjebak pada sikap men-tazkyah diri sendiri. Allah ta’ala mengajarkan, “…maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (An-Najm:32).

Selain karena sikap tawadlu’-nya, penolakan tersebut tak terpisah dari pandangan hidupnya bahwa Islam merupakan “agama yang hidup dan kokoh” sehingga tidak perlu dihidupkan oleh siapapun. Dengan demikian, terdapat alasan bagi Allah untuk meminta pertanggungjawaban manusia yang menyepelekan Islam dan meninggalkannya (hujjatun ‘alaihi). Dari perspektif lain, penyebutannya sebagai ‘orang yang menghidupkan Agama’ (muhyiddin) sepanjang masa oleh para Ulama dan murid-muridnya, termasuk kita semua di masa ini, dapat pula dimaknai sebagai “isyarat” kemuliaan dan kasih sayang Allah ta’alakepadanya serta wujud nyata dari janji Rasulullah ‘alaihissalam : ”…Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)[2]

  • Perkembangan dan Rihlah Ilmiahnya

Firasat kecemerlangan dan keistimewaan Imam Nawawi dikisahkan oleh murid terdekatnya, Ibnu Aththar dalam bukunya Tuhfat al-Thalibin fi Tarjamat al-Imam al-Nawawi; sebuah karya biografi yang didedikasikan untuk gurunya tercinta. Suatu ketika pada usianya yang ketujuh tahun, tepatnya pada malam ke-27 di bulan suci Ramadlan,  Imam Nawawi yang tidur di sebelah ayahandanya tiba-tiba melihat cahaya yang menerangi seisi rumahnya. Usia dininya membuatnya belum mengerti apa yang sedang terjadi di hadapannya. Sejenak ia membangunkan ayah dan keluarganya seraya bertanya cahaya apa gerangan yang menerangi rumahnya di tengah malam yang gulita itu. Tak seorangpun selain dirinya yang mampu melihat cahaya terang tersebut.

Tak lama berselang ayahnya menyadari bahwa  malam tersebut merupakan malam yang teramat mulia di bulan suci : laylatul qadar ! Terbersit firasat pada diri sang ayah bahwa anaknya menyimpan rahasia segala kebaikan dan keutamaan;  kelak anaknya akan menampakkan urusan yang sangat besar bagi agama dan umatnya. Firasat serupa pernah juga disampaikan oleh guru yang mengajarkannya Al-Qur’an bahwa kelak Imam Nawawi akan menjadi seorang ‘alim yang utama di masanya; mendatangkan manfaat bagi manusia.[3]

Firasat tersebut begitu mendalam terpatri dalam sanubari sang ayah. Syaraf bin Murri, ayahanda Imam Nawawi,  tak lain adalah seorang yang sangat terkenal di masyarakat masa itu karena kesalehan dan ketakwaannya. Nawawi kecil diasuh dan dididik dengan gigih; cinta ilmu dan menguasai Al-Qur’an menjadi cita-cita mulianya dalam pendidikan dini ini. Segala keperluan sehari-hari Imam Nawawi termasuk makan dan minumnya dilayani secara tulus ikhlas oleh ayahnya. Ia mengawali aktifitasnya menuntut ilmu diKatatib (tempat belajar baca-tulis untuk anak-anak) yang terdapat di Nawa. Menjelang usia baligh  Imam Nawawi mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an dengan sempurna.[4]

Memasuki usia ke-18 pada tahun 649 H, ayahnya membawanya ke Damaskus dan tinggal di Lembaga Pendidikan Rawahiyah. Seluruh jiwa dan raganya didedikasikan untuk meraih ilmu sebanyak-banyaknya. Tak heran, dalam kurun waktu kurang lebih empat bulan setengah Imam Nawawi berhasil menghafalkan kitab al-Tanbih fi Furu’ al-Syafi’iyyah (karya Abu Ishaq al-Syairazy) dan seperempat kitab al-Muhadzdzab fi al-Furu’ pada bulan-bulan tersisa pada tahun yang sama.[5]

Imam Nawawi melalui hari-hari kehidupannya dengan semangat ilmu yang luar biasa. Tak kurang dari duabelas pelajaran dibacanya setiap hari; Al-Wasith, al-Jam’u Bayna al-Shahihain, Shahih Muslim, al-Luma’, Ishlah al-Manthiq, al-Tashrif, Ushul al-Fiqh, Asma’ al-Rijal dan Ushuluddin. Semua pembacaan dan penelitiannya terhadap sumber-sumber tersebut selalu diiringi dengan catatan, komentar, penjelasan yang pada akhirnya melahirkan karya ilmiah sendiri.[6] Abu al-Falah al-Hanbali, dalam kitabnya, Syadzrat al-Dzahab fi Akhbar man Dzahab, menerangkan bahwa keberhasilan Imam Nawawi dalam membangun otoritas dan integritas ilmiahnya setidaknya ditopang oleh perpaduan tiga hal pada dirinya; pertama,ketenangan pikiran dan kelapangan waktu; kedua, gemar mengoleksi kitab-kitab yang dimanfaatkan untuk meneliti, memverifikasi dan mencermati penjelasan para Ulama’; dan ketiga, niat yang baik, wara’, zuhuddan amal shalih yang selalu memantulkan cahaya dalam hidupnya.[7]

Dalam kesehariannya, Imam Nawawi hidup sederhana dan bersahaja, menggunakan banyak waktunya dalam ketaatan. Sering meninggalkan pembaringan di malam hari untuk ibadah atau menulis. Istiqamah menunaikan puasa Dawud. Kata Ibnu Aththar, ia tidak makan dan minum kecuali di waktu santap malam dan di saat sahur. Makanannya berasal dari hasil cocok tanam ayahnya di pekarangannya. Sikap wara’-nya terlihat nyata dalam hidup sehari-hari. Ia menghindari makan buah-buahan yang merupakan hasil pertanian utama yang terkenal dengan kualitasnya di Damaskus masa itu.

Ibnu al-Aththar memberanikan diri bertanya tentang sikap gurunya itu. Dengan santun Imam Nawawi menjelaskan alasanya, ”Damaskus adalah suatu negeri yang penuh dengan tanah wakaf untuk anak-anak yatim dan juga lahan pertanian yang dimiliki oleh orang-orang yang tidak mampu mengelola hak miliknya secara langsung (mahjûr); tentu, secara syariat, tidak diperkenankan mengelola semua itu kecuali untuk kemaslahatan mereka. Adapun mengelolanya dengan sistem musȃqah (menyerahkan pohon tertentu seperti kurma dll. kepada orang yang akan mengelolanya dengan imbalan mendapatkan bagian tertentu dari buah tersebut) merupakan sesuatu yang diperselisihkan oleh para Ulama (khilafiyah). Bagi yang membolehkannya, mereka mensyaratkan terwujudnya kemaslahatan untuk anak-anak yatim tersebut. Tapi kenyataannya, hanya seperseribu buah yang diperlakukan seperti itu oleh kebanyakan orang di Damaskus.  Lalu, dengan keadaan seperti itu bagaimana mungkin jiwaku tenang dan nyaman menikmati buah-buahan tersebut?.”[8]

Para Ulama yang menulis tentang sejarah hidupnya sepakat untuk menyematkan sifat-sifat mulia pada diri Imam Nawawi; cinta ilmu,  zuhud, tauladan dalam ketataan, panutan dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar serta seorang pribadi yang gigih dan santun dalam memberikan nasihat kepada para penguasa di masanya dengan cara-cara beradab sebagaimana Islam mengajarkannya. Ia menyurati para penguasa zalim; mengingkari kezaliman yang mereka lakukan dan mengingatkan agar selalu takut kepada Allah ta’ala. Dalam perkara amar ma’ruf nahi munkar ia adalah sosok yang siap dengan segala resiko, tidak begitu peduli dengan cacian orang lain, bahkan, kata al-Dzahabi, sanggup menerima kematian di jalan ini.[9]

Kisah Imam Nawawi dalam menunaikan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar banyak dicatat oleh para penulis sejarah. Di antaranya ialah kisah keteladanannya di hadapan Raja al-Dhahir Bebris. Saat itu ia diminta hadir oleh sang Raja untuk menandatangani sebuah fatwa yang telah disiapkan. Penampilannya yang bersahaja dan sangat sederhana membuat Bebris tak begitu menghiraukan, bahkan meremehkannya. “Tandatanganilah fatwa ini !”, perintah Raja. Segera Imam Nawawi membaca dan mencermati isi fatwa tersebut lalu menolak membubuhkan tandatangan. Sikapnya membuat Raja marah, “Mengapa anda menolak?!”, tanyanya dengan nada tinggi. Dengan penuh wibawa ia menjawab : “Fatwa ini berisi kedhaliman yang nyata.” Raja semakin marah dan berkata: “Pecat ia dari semua jabatannya!” Para pembantunya menjawab, “Ia tidak punya jabatan sama sekali Tuan.” Raja ingin membunuhnya namun Allah melindungi Sang Imam. “Mengapa anda tidak membunuhnya padahal ia bersikap demikian kepada Tuan?,” usul para pembantunya. Raja pun menjawab: “Demi Allah, aku sangat segan kepadanya.”[10]Subhanallah!

Tak terbatas pada urusan agama semata. Imam Nawawi juga menunjukkan kepedulian dan perhatiannya yang sangat nyata terhadap hajat masyarakat kebanyakan dan urusan-urusan publik di negerinya. Suatu ketika masyarakat Damaskus mengalami krisis dan kesulitan hidup yang sangat diakibatkan oleh musim kering yang berkepanjangan, inflasi ekonomi yang melambungkan harga-harga, minimnya hasil panen dan cocok tanam serta kepunahan hewan ternak. Dengan rasa penuh tanggungjawab dan bahasa yang sangat santun disertai ungkapan kasih sayang mendalam kepada Baginda Raja, Imam Nawawi menulis surat berikut ini (penulis terjemahkan ke bahasa Indonesia) :[11]

Bismillahirrahmanirrahim,

Dari Hamba Allah Yahya al-Nawawi,

Keselamatan, rahmat dan keberkahan dari Allah kepada Paduka yang selalu berbuat kebaikan, Raja Diraja Badruddin; semoga Allah Yang Maha Mulia mengabadikan segala kebaikan untuknya; melindunginya dengan segala kebaikan; memenuhi segala harapannya berupa kebaikan-kebaikan dunia dan akherat; memberkahinya dalam segala keadaan, amin.

Kami permaklumkan kepada Paduka yang mulia, bahwa penduduk negeri Syam pada tahun ini menghadapi kesulitan hidup, keadaan yang sangat menderita akibat kekeringan yang berkepanjangan, melambungnya harga-harga, berkurangnya hasil bercocok tanam serta punahnya binatang-binatang ternak dan lain-lain.

Sebagaimana Paduka ketahui bahwa kasih sayang merupakan sesuatu yang wajib dilakukan oleh rakyat jelata dan Sultan; termasuk wajib menasehatinya demi kebaikannya dan kebaikan rakyat karena sesungguhnya agama itu adalah nasehat.

Sungguh para Pelayan Syariat; orang-orang yang sejatinya merupakan penasehat dan pecinta Sultan, telah menulis surat kepada Sultan agar memperhatikan keadaan rakyat sebaik-baiknya; bersikap lemah lembut kepada mereka. Sesungguhnya dalam hal seperti ini tidak terdapat hal-hal yang merugikan  bahkan sebuah nasehat yang tulus, kasih sayang yang sempurna dan sebagai peringatan bagi orang-orang yang memiliki pikiran cemerlang.

Kami mohon kepada Paduka –semoga Allah mengokohkannya- agar menyampaikan pesan ini kepada Sultan –semoga Allah mengabadikan segala kebaikan untuknya- dan mengarahkannya agar bersikap kasih sayang kepada rakyat di mana Sultan akan mendapatkan imbalannya di sisi Allah : “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.”(Alu ‘Imran:30).

Surat ini, yang ditulis dan dikirim oleh para Ulama kepada Paduka merupakan sebuah amanah dan nasehat bagi Sultan –semoga Allah mengagungkan para pembantunya- termasuk pula bagi kaum muslimin di dunia dan akherat. Sekali lagi,  pantaslah kiranya Paduka berkenan menyampaikannya kepada Sultan. Dan Paduka yang mulia akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah ini, tentu tidak ada alasan untuk mengabaikan/menundanya.

 Ingatlah selalu wahai Paduka yang mulia : “…pada suatu hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna” (Syu’ara’:88), “pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.”(‘Abasa:34-37).

Alhamdulillah, Paduka yang mulia adalah orang yang mencintai dan sangat peduli serta bersegera menunaikan kebaikan, dan permasalahan ini merupakan yang terpenting dari segala kebaikan, ketaatan yang paling utama, dan tentu pula Paduka yang mulia telah dipersiapkan untuk memangku amanah ini sebaik-baiknya dan Allah telah menganugerahkannya kepada Paduka. Semua ini tak lain adalah karunia Allah; kami sangat khawatir jika kesulitan yang dialami oleh rakyat negeri ini semakin parah dan memburuk, jika mereka tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Allah ta’ala berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”(Al-A’raf:201); “Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”( Al-Baqarah:215).

Sejumlah Ulama yang menulis surat ini sedang menanti tindak lanjut pesan ini dengan penuh harap. Sungguh apa-apa yang Paduka lakukan akan Paduka dapatkan di sisi Allah : “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Al-Nahl:128).

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

                                                                                                                             

Meskipun isi surat tersebut penuh dengan ungkapan kesantunan, kasih sayang dan penghormatan yang tinggi kepada sang Raja, Imam Nawawi mendapatkan balasan yang sebaliknya; ekspresi kemarahan yang memuncak dan penuh emosi yang menyakitkan dari Raja tersebut. Sempat pula hati para ulama yang terlibat dalam proses korespondensi tersebut ciut dan ketar-ketir.

Meskipun dalam suasana penuh tekanan dan intimidasi dari penguasa, Imam Nawawi tetap kokoh pendiriannya bahwa kebenaran tak dapat ditawar; kebenaran dan keadilan harus tegak dan wajib ditegakkan. Spirit dan semangat menegakkan kebenaran tanpa tendensi ataupun orientasi politis dan kepentingan jangka pendek tertentu, ia membalas surat balasan Raja dengan tulisan dan nasehat-nasehat yang lebih tajam dan lebih panjang dari surat pertamanya. Karenanya, keikhlasan dan ketegarannya dicatat sebagai keteladanan yang utama dan autentik dalam menegakkan penopang dan pilar utama peradaban Islam : amar ma’ruf-nahi munkar.

Pada tahun 651 H ia menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, kemudian ia pergi ke Madinah dan menetap disana selama satu setengah bulan lalu kembali ke Damaskus. Dalam menjalani masa pengabdiannya dalam menebarkan  ilmu pengetahuan, Imam Nawawi tercatat mengajar di Madrasah al-Iqbaliyah wa al-falakiyah wa al-Rukniyah, sebuah lembaga pendidikan yang dimiliki oleh para pengikut Madzhab Syafi’i. Di Lembaga ini ia menggantikan Syamsuddin Ahmad bin Khallikan yang wafat pada tahun 681 H. Selanjutnya, Imam Nawawi sampai akhir hayatnya (676 H) memegang amanah sebagai pemimpin Dewan Guru Senior (Masyikhah) pada Lembaga Darul Hadist al-Asyrafiyah setelah wafatnya Abu Syamah Abdurrahman bin Ismail pada tahun 665 H dan menolak mengambil gaji dari aktifitas ilmiahnya ini.[12]

  • Para Guru dan Murid-murid Imam Nawawi

Dalam bidang Ilmu Fiqih & ushul Fiqih ia berguru kepada: Ishaq bin Ahmad bin ‘Utsman al-maghriby al-Maqdisi (w.650 H); ‘Abdurrahman bin Nuh bin Muhammad al-Maqdisi al-Dimasyqi (w.654); Sallar bin Hasan al-Irbali al-Halabi al-Dimasyqi (w.670); Umar bin Bandar bin Umar al-Tiflisi al-Syafi’i (w.672); ‘Abdurrahman bin Ibrahim bin Dhiya’ al-Fazari, dikenal dengan nama Al-Farkah (w.690).

Ilmu Hadis dipelajari dibawah asuhan para ulama : Abdurrahman bin Salim bin Yahya al-Anbari (w.661); Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdul Muhsin al-Anshari (w.662); Khalid bin Yusuf al-Nablusi (w.663); Ibrahim bin Isa al-Muradi (w.668); Isma’il bin Abi Ishaq al-Tanukhi (w.672); Abdurrahman bin Abi Umar al-Maqdisi (w.682). Sementara di bidang bahasa dan tata bahasa ia menimba ilmu kepada Syaikh Ahmad bin Salim al-Mishri (w.664) dan Al-‘Izz al-Maliki.

Tak hanya menjadi seorang yang Alim untuk dirinya, Imam Nawawi juga melahirkan para ulama besar yang dicatat oleh tinta emas peradaban Islam: Sulaiman bin Hilal al-Ja’fari; Ahmad Ibnu Farah al-Isybily; Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah; Syamsuddin bin al-Naqib; Syamsuddin bin ja’dan; Ala’uddin Ali Ibnu Ibrahim (lebih terkenal dengan sebutan Ibnu Aththar); dll. Nama terakhir inilah yang paling setia mendampingi Imam Nawawi sehingga ia mendapat sebutan “Mukhtashar Nawawi” (Nawawi Junior).[13]

  • Karya Ilmiahnya

Imam Nawawi rahimahullah menghasilkan banyak karya tulis dalam berbagai bidang dan disiplin ilmu Islam. Diantara ciri-ciri karya ilmiahnya ialah; sangat jelas, menggunakan ungkapan yang mudah dipahami serta dengan pilihan kata-kata yang indah dan menyegarkan. Kata-kata yang pengunaannya menyimpang selalu dijelaskan dengan baik; demikian pula sesuatu yang baru ataupun kandungan ilmu-ilmu yang terpendam tak kan ditinggalkannya. Demikian pula dalam menjelaskan sesuatu secara ringkas, ia akan menunjukkan hal-hal yang unik dan menakjubkan para pembacanya. Berikut ini goresan tinta emas Imam Nawawi berupa kitab-kitab yang menginspirasi dan menghiasi khazanah peradaban Islam :[14]

1)

Al-Minhaj

المنهاج شرح صحيح مسلم بن الحجاج

2)

Riyadl al-Shalihin

رياض الصالحين

3)

Al-Adzkar

الأذكار من كلام سيد الأبرار

4)

Al-Arba’in al-Nawawiyah

الأربعين في مباني الإسلام وقواعد الأحكام/

الأربعين النووية

5)

Al-Isyarat ila Bayan al-Asma’ al-Mubhamat

الإشارات إلى بيان الأسماء المبهمات

6)

Al-Taysir Fi Mukhtashar al-Irsyad Fi ‘Ulum al-Hadist

التيسير في مختصرالإرشاد في علوم الحديث

7)

Irsyad Thullab al-Haqa’iq Ila Ma’rifat Sunan Khair al-Khala’iq

إرشاد طلاب ا لحقائق إلى معرفة سنن خير الخلائق

8)

Al-Tahrir Fi Syarh Alfadz al-Tanbih

التحرير في شرح ألفاظ التنبيه

9)

Al-‘Umdah Fi Tashih al-tanbih

العمدة في تصحيح التنبيه

10)

Al-Idlah Fi al-Manasik

الإيضاح في المناسك

11)

Al-Ijaz Fi al-Manasik

الإيجاز في المناسك

12)

Al-Tibyan fi Adab Hamalat Al-Qur’an

التبيان في آداب حملة القرآن

13)

Mukhtar al-Bayan

 مختار البيان (مختصر التبيان في آداب حملة القرآن)

14)

Al-Tarkhish bi al-Qiyam Lidzaw al-Fadl wa al-Maziyah

الترخيص بالقيام لذوي الفضل والمزية من أهل الإسلام

15)

Tuhfat Thullab al-Fadla’il

تحفة طلاب الفضائل

16)

Al-Minhaj fi Mukhtashar al-Muharrir

المنهاج في مختصر المـحرر للرافعي

17)

Hizb Ad’iyah

حزب أدعية

18)

Mukhtashar Asad al-Ghabah

مختصرأسد الغابة في معرفة الصحابة

19)

Mukhtashar al-Basmalah

مختصرالبسملة

20)

Mukhtashar al-Tadznib

مختصرالتذنيب

21)

Mukhtashar al-Tirmidzi

مختصرالترمذي

22)

Mukhtashar al-Tanbih

مختصرالتنبيه

23)

Manaqib Al-Syafi’i

مناقب الشافعي

24)

Muhimmat al-Ahkam

مهمات الأحكام

Imam Nawawi sempat menulis beberapa kitab lainnya, namun belum sempat disempurnakan hingga ajal menjemputnya. Kitab-kitab tersebut sebagai berikut :

1)

Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab

المجموع شرح المهذب

2)

Jami’ al-Sunnah

جامع السنة

3)

Syarh al-tanbih

شرح التنبيه

4)

Syarh al-Wasith

شرح الوسيط

5)

Syarh al-Bukhari

شرح البخاري

6)

Syarh Sunan Abi Dawud

شرح سنن أبي داود

7)

Al-Imla’ ‘ala Hadits al-A’mal Bi al-Niyat

الإملاء على حديث الأعمال بالنيات

8)

Al-Ahkam

الأحكام

9)

Al-Tahdzib li al-Asma’ wa al-Lughat

التهذيب للأسماء واللغات

10)

Bustan al-‘Arifin

بستان العارفين

11) Daqa’iq al-Rawdlah

دقائق الروضة

  • Akhir Hayatnya

Ibnu Aththar, murid terdekatnya,  menuturkan firasat kematian sang guru. Dalam kebersahajaan hidupnya, Imam Nawawi tampil nyata sebagai seorang hamba allah  yang pantang menerima apalagi meminta sesuatu kepada orang lain, kecuali dari atau kepada orang yang diyakini integritas ilmu dan agamanya, dan itupun tak terkait dengan aktifitas ataupun kontribusi dan jasa-jasanya dalam menebarkan ilmu dan mendidik murid-muridnya.

Dua bulan menjelang ajal menjemputnya, kata Ibnu Aththar, ia kedatangan tamu, seorang fakir miskin yang membawakan sebuah kendi air, wadah makanan dan perlengkapan safar. Tak seperti biasanya, justeru Imam Nawawi menerima pemberian tamunya dengan baik dan memerintahkan Ibnu Aththar agar meletakkan barang-barang tersebut di tempat penyimpanan barang-barang keperluannya. Beberapa hari setelah peristiwa itu, Ibnu Aththar kembali menemuinya dan sang guru menyampaikan bahwa ia telah ‘diizinkan’ untuk bepergian. “Maksud Panjenengan?”, tanya sang murid penuh keheranan. Imam Nawawi berkisah, “Ketika aku duduk menghadap Qiblat di Madrasah Rawahiyah, seketika aku melihat seseorang berlalu di hadapanku dari arah barat ke timur seraya berkata : bergegaslah dan pergilah ke Baitul Maqdis!.”

Tak lama berselang, Imam Nawawi mengajak muridnya mengunjungi dan menyampaikan ucapan perpisahan kepada para sahabat dan handai taulannya. Ibnu Aththar dengan setia mendampingi Imam Nawawi berziarah ke kuburan guru-gurunya. Di sini, Imam Nawawi tak lagi mampu membendung aliran air mata di wajahnya yang teduh itu. Setelah itu Imam Nawawi pergi menuju Baitul Maqdis dan tak lupa ziarah ke makam al-Khalil Ibrahim ‘alaihissalam. Tak lama setelah itu Imam Nawawi kembali ke rumah orang tuanya di Nawa dan menderita sakit hingga ajal menjemputnya dan berpulang ke rahmatullah pada malam Rabu, tanggal 24 Rajab 676 H dalam usia tidak genap 45 tahun. Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un…!

Masih dalam catatan Ibnu Aththar, semasa hidupnya, kerabatnya pernah menyampaikan harapan kepada Imam Nawawi agar tidak melupakan mereka di padang Mahsyar pada hari Kiamat kelak. Jawabnya saat itu, ”Jika di sana nanti ada kemuliaan, demi Allah, aku akan masuk ke dalam surga dengan membawa siapa saja yang aku kenal di belakangku; dan sungguh aku tak memasukinya sebelum mereka masuk semuanya ke dalam surga itu.”

Setelah pemakamannya, keluarga Imam Nawawi hendak membuat bangunan di atas kuburannya. Hingga pada suatu malam, bibinya bermimpi didatangi oleh Sang Imam dan melarang mereka untuk melakukan hal tersebut. Mereka mengurungkan kehendaknya dan memagari kuburan Imam Nawawi dengan batu. Salah seorang saudaranya, Syaikh Abdurrahman, menuturkan bahwa di masa sakitnya Imam Nawawi pernah menginginkan apel, buah yang selama hidupnya dihindari karena sikap wara’-nya, seperti yang telah penulis jelaskan sebelumnya. Namun ia tak jadi memenuhi hasrat tersebut. Suatu malam, keluarganya bermimpi berjumpa dengan Imam Nawawi. Ia ditanya, “Bagaimana Allah memperlakukanmu?”. Jawab Sang Imam, “Sungguh Dia telah memuliakan tempat tinggalku (di alambarzakh), menerima amalku dan suguhan yang pertama kunikmati ialah : buah apel !”.[15]

Subhanallah ! itulah sepenggal kisah spiritual yang tak terpisah dari karomah yang dianugerahkan Allah kepada Imam Nawawi. Semoga keteladanan yang beliau wariskan selalu hidup dalam hati, pikiran dan laku kehidupan kita sehari-hari. Amin.

رحمةً واسعةً وأدخلَنا وإيَّاهُ جنةً عاليةً قُطوفُها دانيةٌ رَحـِمــهُ اللهُ تَعَالىَ

Budi Mulia, 19 Januari 2012

  • Referensi/Sumber Bacaan

 

1)    Al-Imam al-Dzahabi, al-‘Ibar fi Khabari Man Ghabar ;

2)   Ibnu al-Aththar , Tuhfat al-Thalibin fi Tarjamat al-Imam Muhyiddin (Amman: al-Dar al-Atsariyah, 1428 H);

3)   Ibnu Katsir, Thabaqat al-Syafi’iyin, Tahqiq : Dr. Umar Hasyim (Maktabat al-Tsaqafah al-Diniyah, 1413 H).

4)  Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad al-Dzahabi (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, tt.), Jilid IV

5)   Muhammad bin Abdurrahman al-Sakhawi , Al-Manhal al-‘Adzb al-Rawiyu fi Tarjamat Quthb al-Awliya’ al-Nawawi ;

6)   Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Minhaj al-Sawiy fi Tarjamat al-Imam Muhyiddin, Tahqiq : AhmadSyafiq Damaj (Beirut : Dar Ibnu Hazm, 1408 H);

7)   Abu al-Falah al-Hanbali, Syadzrat al-Dzahab fi Akhbar man Dzahab, tahqiq : Mahmud al-Arna’uth (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1406 H);

8)   Abd al-Ghani al-Daqr , Al-Imam al-Nawawi : Syaikhul Islam wa al-Muslimin wa ‘Umdat al-Fuqaha’ wa al-Muhadditsin wa Shafwat al-Awliya’ wa al-Shalihin ( Dimasyq: Dar al-Qalam, 1415H).

9)   Dr. Ahmad Farid , Al-Imam al-Nawawi (www.saaid.net/book/7/1257.doc)

10)     Dzafir ibn Hasan Alu Jab’an, Tarjamat al-Imam al-Nawawi (Syawwal 1428 H)

  • Catatan Akhir

[1] Abu al-Falah al-Hanbali, Syadzrat al-Dzahab fi Akhbar man Dzahab, Tahqiq : Mahmud al-Arna’uth (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1406 H). Lihat al-Maktabah al-Syamilah.

[2] Dr. Ahmad Farid , Al-Imam al-Nawawi, dalam : www.saaid.net/book/7/1257.doc; al-Manhal al-‘Adzb al-Rawi fi tarjamat al-Imam al-Nawawi, hlm. 4; Abd al-Ghani al-Daqr , Al-Imam al-Nawawi : Syaikhul Islam wa al-Muslimin wa ‘Umdat al-Fuqaha’ wa al-Muhadditsin wa Shafwat al-Awliya’ wa al-Shalihin ( Dimasyq:Dar al-Qalam, 1415H), hlm. 21

[3] Ibnu al-Aththar , Tuhfat al-Thalibin fi Tarjamat al-Imam Muhyiddin (Amman: al-Dar al-Atsariyah, 1428 H), hlm. 42-45

[4] Ibnu al-Aththar , Tuhfat al-Thalibin , hlm. 44

[5] Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad al-Dzahabi (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, tt.), Jilid IV/ hlm. 1470

[6] Lihat lebih lanjut, Ibnu al-Aththar , Tuhfat al-Thalibin,hlm. 44-51

[7] Abu al-Falah al-Hanbali, Syadzrat al-Dzahab…,Lihat al-Maktabah al-Syamilah.

[8] Ibnu al-Aththar , Tuhfat al-Thalibin , hlm. 67-68

[9] Abd al-Ghani al-Daqr , Al-Imam al-Nawawi :…, hlm. 105

[10] Jalaluddin al-Suyuthi , Al-Minhaj al-Sawiy fi Tarjamat al-Imam Muhyiddin, Tahqiq : AhmadSyafiq Damaj (Beirut : Dar Ibnu Hazm, 1408 H), hlm. 29

[11] Surat-surat dan korespondensi Imam Nawawi rahimahullah kepada para Raja dan Pemimpin masa itu secara lengkap dapat dicermati lebih lebih lanjut pada; Ibid.,hlm. 98-113;  Jalaluddin al-Suyuthi , Al-Minhaj…,hlm. 66-76; Muhammad bin Abdurrahman al-Sakhawi , Al-Manhal al-‘Adzb al-Rawiyu, hlm. 53-66

[12] Abu Usamah Salim bin ‘Eid al-Hilali, Buhjat al-nadhirin Syarh Riyadl al-Shalihin (Dar ibn al-Jawzi, 1421), Jilid I, hlm. 11; Jalaluddin al-Suyuthi , Al-Minhaj…,hlm. 47; Tentang Madrasah Rawahiyah, lihat catatan kaki pada, Ibnu al-Aththar , Tuhfat al-Thalibin …, hlm. 45-46 dan lihat pula, hlm. 95-96

[13] Lihat, Ibid… Jilid I, hlm. 10; Ibnu al-Aththar, Tuhfat al-Thalibin…, hlm. 52-63.

 

[14] Lihat lebih lanjut, Ibnu al-Aththar , Tuhfat al-Thalibin , hlm. 67-68; Abd al-Ghani al-Daqr , Al-Imam al-Nawawi : …, hlm. 157-190.

[15] Jalaluddin al-Suyuthi , Al-Minhaj…, hlm. 77-81

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*

*

Jadwal Sholat


Jadwal Sholat Di Beberapa Kota